SUMUTNEWS.CO, New York – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyampaikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB (COP31) di Turki, yang dijadwalkan berlangsung pada 9–20 November.
Guterres menegaskan bahwa dunia kini tiba pada “momen pembuktian” (a moment of truth) dalam perang menahan laju pemanasan global.
Seruan tersebut menjadi pidato iklim pamungkas Guterres sebelum menuntaskan masa jabatan kedua sekaligus terakhirnya di pucuk pimpinan PBB pada pengujung tahun ini.
Urgensi krisis terasa kian mendesak di tengah ancaman gelombang panas ekstrem, badai, kekeringan berkepanjangan, hingga fenomena El Niño yang mengacaukan sistem cuaca dunia.
“Ini adalah momen pembuktian. Kita tidak bisa lagi menunggu, kita tidak bisa terus berdiskusi tanpa ujung di mana setiap pihak saling melempar tanggung jawab. Semua pihak harus berbuat lebih banyak, dan bertindak sekarang,” ujar Guterres dalam wawancara khusus bersama The Associated Press di Markas Besar PBB, New York.
Pukulan Telak Target 1,5 Derajat Celsius
Selama satu dekade memimpin PBB, mantan Perdana Menteri Portugal berlatar belakang insinyur ini konsisten menyuarakan bahaya emisi bahan bakar fosil, termasuk mempopulerkan istilah “era pendidihan global” (global boiling).
Namun, ia mengakui kenyataan paling pahit baru ia rasakan setahun lalu ketika berkonsultasi dengan para ilmuwan sebelum membawakan pidato iklim besar.
Kala itu, Guterres berencana menegaskan bahwa target ambang batas pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius sesuai Perjanjian Paris 2015 masih bisa dicapai.
“Para ilmuwan mengatakan kepada saya: Anda tidak bisa lagi menyatakan hal itu karena sudah tidak lagi benar,” tutur Guterres. Tingginya emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca yang terlanjur terlepas ke atmosfer membuat batas tersebut praktis terlampaui.
Kenyataan tersebut sempat ia rasakan sebagai kegagalan pribadi. Kendati demikian, ia menolak anggapan bahwa dunia yang menyerah. “Bukan dunia yang gagal, melainkan kepemimpinan politik yang gagal.
Perlindungan planet membutuhkan visi strategis jangka panjang, namun di banyak sistem politik visi itu nihil. Kebijakan berganti terlalu sering sehingga investasi berkelanjutan yang konsisten sulit terwujud,” katanya.
Ancaman Bertumpuk: Dari Perang hingga Beban Energi AI
Guterres juga menyoroti krisis global yang saat ini kian bertumpuk dan saling memperburuk. Perang yang berkecamuk di Ukraina dan kawasan Timur Tengah kian membuktikan bahwa ketergantungan pada energi fosil memicu kerentanan keamanan yang fundamental.
Di sisi lain, lonjakan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) turut menyedot konsumsi daya listrik, air, serta menghasilkan jejak karbon yang luar biasa tinggi.
Peringatan akan ancaman bencana iklim yang nyata pun telah terbukti. Tiga tahun lalu, Guterres sempat mendaki kawasan gletser Nepal dan memperingatkan potensi banjir bandang akibat mencairnya danau glasial.
Bencana itu tiba lebih cepat dari prediksinya: banjir bandang pada Agustus lalu menewaskan lebih dari 1.400 jiwa dan menyebabkan 5.600 lainnya hilang.
Menanggapi besarnya penderitaan di negara-negara rentan yang menanggung akibat dari krisis yang bukan buatan mereka, Guterres mendesak intervensi finansial dari industri energi.
“Perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil mendulang laba yang sangat masif. Laba tak terduga (windfall profits) tersebut semestinya dikenai pajak dan dananya dialokasikan langsung untuk membantu negara-negara yang menanggung dampak iklim paling parah,” tegasnya.
Pesan untuk Penerus Pejabat Sekjend PBB Selanjutnya : Jangan Takut Berkata Jujur
Meski kerap menuai pujian atas keberaniannya bersuara, Guterres menyadari keterbatasan struktural jabatannya. Dewan Keamanan PBB dan negara-negara anggota kerap mengabaikan seruan internasional, terlebih dengan adanya hak veto negara adidaya.
“Posisi Sekretaris Jenderal tidak memiliki kekuasaan eksekutif nyata. Anggaran kami pun terbatas. Namun ada satu hal yang kami miliki: sebuah suara,” kata Guterres.
Menjelang suksesi kepemimpinan PBB yang tengah digodok Dewan Keamanan, ia hanya menitipkan satu nasihat singkat kepada calon penerusnya: “Katakan yang sebenarnya (Tell the truth).”
Bagi publik luas, ia meminta agar krisis iklim tidak lagi dipandang sebatas isu lingkungan semata. “Sikapi ancaman ini dengan serius karena ini menyangkut ancaman eksistensial. Hal mendasar yang sedang kita perjuangkan saat ini adalah kelangsungan hidup kita sendiri,” pungkasnya. (SN17)