Dimediasi Melania Trump, Rusia dan Ukraina Sepakati Gencatan Senjata di Oleshky Mulai 27 Oktober

SumutNews.co, Jakarta – Pemerintah Ukraina dan Rusia menyepakati gencatan senjata sementara di kota Oleshky yang diduduki pasukan Moskow, efektif mulai Selasa, 27 Oktober 2026 pukul 04.00 waktu setempat (01.00 GMT). Kesepakatan kemanusiaan yang diumumkan pada Jumat, 23 Oktober 2026, tersebut dimediasi langsung oleh Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump guna membuka akses logistik bantuan dan koridor evakuasi warga sipil.

Oleshky, kota di wilayah Kherson yang terletak di seberang Sungai Dnipro, berada di bawah pendudukan militer Rusia sejak Februari 2022. Data Gedung Putih menunjukkan populasi kota itu menyusut drastis dari 24.000 jiwa sebelum perang menjadi hanya 1.700 hingga 2.000 jiwa saat ini, dengan mayoritas penduduk yang tersisa merupakan kelompok lanjut usia yang terancam kelaparan parah serta ketiadaan pasokan medis dan air bersih.

Melania Trump, yang aktif mengadvokasi pemulangan anak-anak Ukraina dari wilayah pendudukan Rusia, merilis pernyataan resmi pada Jumat, 23 Oktober 2026, yang menegaskan urgensi penyelamatan warga di kota garis depan tersebut. “Oleshky adalah kota garis depan perang yang berada di ambang bencana. Populasi Oleshky yang tersisa terutama terdiri dari warga lansia yang sangat membutuhkan perhatian medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih,” ujar Melania dalam pernyataan tertulisnya.

Krisis di Oleshky sebelumnya juga mendapat perhatian langsung dari pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Leo. Dalam kurun sepekan menjelang tercapainya kesepakatan tersebut, Paus Leo telah berbicara langsung secara terpisah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas kondisi darurat kemanusiaan di kawasan tersebut.

Baca juga:  Singapura Bidik Korporasi Penyebab Karhutla di Indonesia

Pernyataan Resmi Pihak Rusia

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengumumkan lewat saluran Telegram resmi Kementerian Pertahanan bahwa seluruh pasukan Rusia akan menahan tembakan tepat pada Selasa, 27 Oktober, pukul 04.00 waktu setempat. Langkah penghentian operasi tempur ini diambil agar koridor bantuan kemanusiaan dapat mulai dibuka secara aman.

Di samping gencatan senjata lokal tersebut, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi telah merampungkan proses pertukaran 270 personel militer dengan pihak Ukraina pada Jumat lalu.

Pada hari yang sama, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyampaikan bahwa tiga kapal tanker pertama bermuatan solar asal Rusia telah bertolak menuju Amerika Utara. Kebijakan perdagangan energi ini berjalan menyusul kesepakatan Presiden AS Donald Trump yang membuka izin pasokan minyak Rusia untuk menstabilkan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat, kebijakan yang menuai protes keras dari Kyiv. Sementara itu, dalam perundingan damai skala luas, Moskow tetap menuntut penyerahan seluruh wilayah Donbas timur oleh Ukraina sebagai syarat utama penghentian perang.

Pernyataan Resmi Pihak Ukraina

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan komitmen mematuhi jadwal penghentian tembakan mulai pukul 04.00 waktu setempat pada 27 Oktober. Militer Ukraina berjanji “melakukan segala hal yang memungkinkan untuk menolong warga Oleshky”, setelah sebelumnya tercatat dua kali menerbangkan pesawat nirawak guna memasok bantuan pangan darurat ke kota yang terisolasi tersebut.

Baca juga:  Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan Peringatkan Pendudukan Israel Jadi Sumber Utama Ketidakstabilan Kawasan

Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina Dmytro Lubinets memaparkan rincian teknis operasi di lapangan. Lubinets menyatakan bahwa misi kemanusiaan pada 27 Oktober mencakup penjinakan dan pembersihan ranjau darat pada akses jalan menuju Oleshky, pengiriman bahan pangan pokok, serta pengawalan evakuasi warga sipil keluar dari zona bahaya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik pemulangan 270 tawanan militer Ukraina yang merupakan pertukaran pertama sejak Agustus lalu. Terkait diplomasi damai, Zelensky mengonfirmasi delegasi teknis Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat telah sepakat menggelar dialog putaran baru pada paruh pertama November di Abu Dhabi atau Swiss. Kesepakatan agenda pertemuan ini tercapai berkat mediasi utusan khusus kepresidenan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner yang sebelumnya telah menemui Zelensky di Norwegia dan Putin di St. Petersburg.

“Rencananya adalah bertemu pada paruh pertama November, tentu sesegera mungkin,” tutur Zelensky saat berbicara melalui tautan video dengan lembaga pemikir Hudson Institute pada Jumat lalu.

Zelensky menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai jangka panjang mensyaratkan jaminan keamanan yang mengikat, komitmen bantuan pendanaan militer Ukraina selama 10 tahun, penolakan tegas atas penyerahan wilayah kedaulatan kepada Rusia, serta keharusan melibatkan negara-negara Eropa dalam perundingan.

Baca juga:  Musim Panen Zaitun Diselimuti Kekerasan, 34 Insiden Serangan, Satu Ditembak dan Tiga Ditahan di Tepi Barat

Di ranah penegakan hukum, Pelaksana Tugas Jaksa Ukraina Anton Kovalskyi melalui saluran Telegram mencatat kepedihan perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut. Kovalskyi melaporkan bahwa invasi skala penuh Rusia telah menewaskan lebih dari 19.000 warga sipil Ukraina, dengan 762 korban di antaranya adalah anak-anak.

Friksi Starlink dan Ketegangan Kyiv–Washington

Upaya diplomasi damai ini bergulir di tengah merenggangnya hubungan bilateral antara Kyiv dan Washington akibat sejumlah langkah Donald Trump yang dinilai menguntungkan pihak Rusia. Pejabat pemerintah Ukraina pada Jumat mengungkapkan bahwa pembatasan kecepatan pada jaringan satelit Starlink milik SpaceX—yang menjadi tulang punggung sistem pertahanan Ukraina dari serangan udara, masih tetap diberlakukan sejak 13 Oktober lalu.

Pernyataan pejabat Ukraina tersebut membantah klaim awal Trump yang menyebut layanan internet satelit telah dipulihkan sepenuhnya. Menanggapi keluhan Kyiv, Trump menyatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat bahwa dirinya belum menghubungi CEO SpaceX Elon Musk, tetapi siap turun tangan bila kendala pembatasan tersebut terus berlanjut. “Jika ada masalah di sana, saya akan menyelesaikannya,” kata Trump. (SN17)

Berita Terbaru

Dini Hari ini, Dua Rudal Houthi Ditembak Jatuh di Arab Saudi, Puing Mendarat di Mekkah hingga Jeddah

SumutNews.co, Riyadh — Sistem pertahanan udara Arab Saudi mencegat...

Pelantikan Pengurus NNB Marsada Huta Lombang, Pemko Padangsidimpuan Ajak Pemuda Jadi Benteng Perangi Narkoba

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Pemerintah Kota Padangsidimpuan mengajak Naposo Nauli...

Diusir dari Rumah Sendiri, Ratusan Keluarga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Serangan di Hebron

SUMUTNEWS.CO, Hebron — Koloni Israel melancarkan serangan besar-besaran di...

Aljerin Nilai Sumut ‘Raksasa’ Tidur, Bidang Manufaktur Belum Digarap Maksimal

SUMUTNEWS.CO, MEDAN - Ketua Alumni Jerman-Indonesia (Aljerin) wilayah Sumatera...

39 Siswa Dua Sekolah di Kotanopan Dilepas Ikut Sidempuan Science Olympiad 2026

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal — Sebanyak 39 siswa dari SD...

Berita Terkait