Jatuh Cinta Sama Hasil, tapi Mengutuk Proses: Penyakit Akut yang Serba instan

Oleh : Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *

 

Jujur saja, saat ini kita ini hidup di zaman yang sangat manja sekali. Mau makan? Tinggal klik aplikasi atau chat driver online. Mau tahu gosip artis paling baru? Tinggal geser-geser layar HP sambil rebahan.Pengen tahu apa yang sedang terjadi dikabupaten ini? Buka situs media online lokal sembari sarapan. Bahkan kalau lagi stres kerja dan mendadak butuh liburan, tiket pesawat bisa dipesan pas kita baru bangun tidur dan masih pakai piyama. Gara-gara sudah terbiasa dengan jalan pintas dan segala kemudahan digital ini, alam bawah sadar kita mulai menuntut hal yang sama pada kenyataan hidup. Kita maunya segalanya cepat. Detik ini berjuang, besok harus langsung kelihatan hasilnya. Hidup ini dipaksa punya tombol fast-forward otomatis.

Kondisi ini makin parah karena tiap hari kita dicekoki pamer kesuksesan di media sosial. Buka TikTok atau Instagram, isinya cuma bagian enak dari hidup orang lain. Ada anak muda usia dua puluhan yang pamer omzet miliaran, konten kreator dengan jutaan pengikut, atau minimal teman tongkrongan yang kerjanya pindah dari satu kafe estetik ke kafe lainnya. Cerita yang dijual selalu tentang indahnya garis finis. Karena takut ketinggalan zaman dan gengsi, kita jadi generasi yang gampang cemas, dikit-dikit stres, dan sering berkhayal terlalu tinggi. Singkatnya: kita jatuh cinta setengah mati pada tujuan, tapi teramat  benci setengah mati pada proses perjalannya.

Baca juga:  Tanda Akan Berakhir Kehidupan: Isyarat An-Nadhir dalam Surah Fatir Ayat 37

Penyakit ini menular parah ke dunia pendidikan kita sekarang. Kemarin saya sempat mengobrol dengan seorang guru SMA, dan dia cerita sambil mengeluh. Muridnya sekarang banyak yang mendadak frustrasi cuma karena kesulitan menghafal materi pelajaran yang agak tebal. Bukannya mencoba cari metode belajar yang seru, si anak malah mogok belajar karena menganggap otaknya sudah mentok.

Di level kuliah, ceritanya beda lagi tapi polanya mirip. Banyak mahasiswa yang malasnya minta ampun kalau disuruh bikin makalah atau laporan penelitian. Alih-alih membaca buku dan memeras otak untuk menyusun argumen, mereka ambil jalan pintas paling instan: salin perintah tugas dari dosen, lempar ke aplikasi AI, lalu langsung kumpulkan hasilnya bulat-bulat. Tanpa diedit. Tanpa dibaca ulang. Mereka ingin dapat nilai A, ingin cepat lulus dan wisuda, tapi emoh bersusah payah melewati ujian mentalnya. Begitu dihadapkan pada bagian proses yang melelahkan, langsung tercipta drama baru. Merasa salah jalan. Kehilangan semangat. Lalu pilih mundur, atau ya itu tadi, curang pakai AI.

Padahal, rasa bosan saat menghafal, jari yang keriting karena mengetik makalah, dan membaca buku referensi menjadi rintangan yang sering di benci itu bukan lampu merah yang menyuruh kita berhenti. Itu justru bumbu rahasia yang wajib ada.

Baca juga:  TNI: Menjaga Darat, Langit, dan Laut Bumi Pertiwi

Coba bayangkan secangkir kopi hitam. Anda tidak bisa memisahkan rasa pahit dari biji kopi kalau mau menikmati keaslian aromanya. Begitu juga dengan sebuah pencapaian. Proses yang melelahkan—seperti memaksa otak mengingat materi atau begadang menyusun bab demi bab makalah—adalah guru terbaik yang lagi melatih kedisiplinan, ketekunan, dan mental kita agar lebih kuat. Mahasiswa yang cuma mengandalkan AI untuk berpikir tidak akan pernah mendapatkan esensi ilmu. Mereka cuma dapat selembar kertas ijazah yang kosong dari keahlian nyata. Tanpa episode-episode sulit itu, kita cuma akan jadi pribadi yang rapuh. Ibarat membangun gedung tinggi di atas fondasi pasir; kelihatan megah, tapi langsung roboh begitu ditiup angin kencang. Karakter yang matang tidak pernah lahir dari tempat yang terlalu nyaman.

Lantas, bagaimana caranya biar tidak stres dan bisa berdamai dengan proses menyebalkan ini? Caranya sederhana: ubah cara mainnya. Mulailah merayakan kemenangan-kemenangan kecil setiap hari.

Daripada mata kita terus melotot melihat target besar di ujung sana yang masih buram, hargailah kemajuan harian Anda. Berhasil menghafal lima poin penting sejarah hari ini? Itu kemenangan. Mampu mengetik dua paragraf makalah hasil pemikiran sendiri tanpa menyentuh AI? Itu juga kemajuan besar. Menahan diri tidak buka media sosial selama satu jam pas lagi belajar? Selamat, Anda menang! Dengan menghargai hal-hal kecil ini, rasa bosan yang tadinya jadi musuh perlahan berubah jadi rutinitas yang menyenangkan.

Baca juga:  ENAM DEKADE PT.ALS DAN MERAWAT MEMORI PAHLAWAN ASPAL

Pada akhirnya, kepuasan terdalam saat berhasil meraih mimpi itu bukan datang dari piala, nilai A, atau pujian orang lain di garis finis. Kepuasan itu lahir dari ingatan tentang seberapa keras kita dulu berdarah-darah, dan bagaimana kita berhasil melampaui batas diri sendiri. Sabar itu bukan diam merenungi nasib, tapi langkah nyata untuk tetap jalan meski jalurnya terjal.

Jadi, nikmati saja prosesnya—termasuk bagian paling pahitnya. Karena di ujung jalan yang membosankan itu, selalu ada pemandangan indah yang cuma bisa dinikmati oleh orang-orang yang mau bertahan.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Berita Terbaru

Berusaha Kabur dan Melawan, Kurir Pengantar 20 Kg Ganja Berhasil Ditangkap Polisi

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Padangsidimpuan...

Manfaatkan Media Digital untuk Syiar Islam, Pelatihan Da’i dan Da’iyah MUI Padangsidimpuan Resmi Ditutup

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Pelatihan Da'i dan Da'iyah Kota Padangsidimpuan...

Pemkab Paluta Matangkan Persiapan Festival Seni Qasidah 2026, Pendaftaran Ditutup 5 Oktober

SUMUTNEWS.CO, Padang Lawas Utara — Pemerintah Kabupaten Padang Lawas...

Ahmad Doli Kurnia Desak Kapolda Sumut Usut Tuntas Kematian Siswi SD di Mandailing Natal

SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua...

TNI: Menjaga Darat, Langit, dan Laut Bumi Pertiwi

Oleh: Moechtar Nasution * Pendahuluan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Berita Terkait