Si Doking Mulut Comberan

SUMUTNEWS.CO – Opini | Mantan Napi penista agama Ahok tidak berubah asmongnya. Ngomong asal tanpa kendali. “Kalau saya Dirut Pertamina kadrun  demo mau bikin gaduh”. Kadrun adalah panggilan untuk “kadal gurun” yang mengarah pada umat Islam atau konteks Ahok mungkin peserta aksi demo 212 yang berhasil “memenjarakannya”. Kadrun dinilai panggilan rasialis Ahok.

Mereka yang biasa menjuluki kadrun adalah para doking, kodok Peking. Pengabdi Negara Cina, Islamophobis, serta agen yang berlindung di ketiak kekuasaan. Sebenarnya Ahok tak pantas jadi pejabat apapun. Di samping kinerjanya buruk juga ngomongnya gede. Sulit untuk memperbaiki karakter sompral bawaannya.

Baca juga:  Rezeki Barokah dan Cepat Berlimpah Tertunda Turun? Waspadai Beberapa Dosa Ini

Komisaris Utama kok bongkar dapur Pertamina sendiri, malah menyeret Menteri segala. Ahok memang sok jago, sok kuasa, dan sok bersih. Peran Komisaris itu bukan marah-marah atau berkeluh kesah. Utamanya mesti membenahi dengan membuat langkah konkrit sesuai kewenangan. Apalagi cuma teriak mulut comberan bawa kadrun kadrunan dengan rasa sentimen.

Ngomong mau bersih bersih padahal orang juga tahu sapunya ‘kagak’ bersih. Gaji gede prestasi kerja tidak jelas. Orang yang buruk track record begini bisa ditempatkan di Pertamina, Komisaris Utama lagi. Pertamina rugi 11 Trilyun di bawah kendalinya. Presiden harus ikut bertanggungjawab karena Ahok adalah kroni dekatnya.

Baca juga:  Mengembangkan Khitah Konstitusi: Babak Baru Batas Yurisdiksi Peradilan Sipil dan Militer

Para doking si kodok Peking selalu menyebut pihak yang kritis pada kebijakan pemerintah sebagai kadrun. Mereka bisa buzzer bisa pula influencer. Seperti Kodok Peking asli yang melompat sana sini, mereka  mencari makan dari semak semak ke semak lain. Bersuara pun berisik melulu.

Wahai Doking jangan lecehkan umat, kalian telah banyak menikmati hasil tanah dan air bangsa ini. Menguras dan menguasai. Saatnya untuk lebih tahu diri dan berterimakasih bukan dengan petantang petenteng sok kaya dan sok kuasa. Pribumi telah lama disakiti. Kini saatnya bangkit.

Baca juga:  MERAWAT SUMPAH PEMUDA DIERA DISRUPSI

 

Bandung, 18 September 2020
M. Rizal Fadillah
Penulis merupakan Pemerhati Politik dan Kebangsaan

 

Editor: Why

Berita Terkait

Mengenal Sosok Kapolres Labuhanbatu AKBP Deni Kurniawan, Inovatif dan Humanis

KOLEGA. ID - Opini | AKBP Deni Kurniawan, S.I.K,...

Demokrasi Setengah Matang

SUMUTNEWS.CO - Opini| Pascareformasi 1998, Negara Kesatuan Republik Indonesia...

Kasihan Pak Prabowo

SUMUTNEWS.CO - Opini | Menteri Pertahanan boleh jadi penting...

Dari Lembar Neraca Menuju Kursi Bupati: Transformasi Kepemimpinan H. Gus Irawan Pasaribu untuk Tapanuli Selatan

Sebuah Refleksi 1,5 Tahun Kepemimpinan H. Gus Irawan Pasaribu...

Jatuh Cinta Sama Hasil, tapi Mengutuk Proses: Penyakit Akut yang Serba instan

Oleh : Moechtar Nasution Forum Lingkar Studi Tulila *   Jujur saja,...

Berita Terbaru