SYEKH MUKHTAR RITONGA BATU HULA (1904-1977), Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Batuhula, Batangtoru

Oleh: Dr. Zainal E. Hasibuan (Akademisi UIN Syahada Padangsidimpuan)

Di antara gugusan Bukit Barisan dan aliran Sungai Batangtoru yang tenang, Allah Subhanahu wa Ta’ala menumbuhkan cahaya dari sebuah desa kecil bernama Gapuk Julu, Marancar. Dari desa itulah lahir seorang hamba saleh yang menghabiskan seluruh hidupnya bukan untuk mengejar kemewahan dunia, melainkan untuk menyalakan pelita zikir di hati manusia. Beliau adalah Tuan Syekh Mukhtar Ritonga Batuhula, seorang ulama yang dengan keikhlasan, kebun karet, dan kolam ikan masnya digunakan untuk sedekah perjuangan membimbing ribuan jiwa mengenal Allah, menjaga akidah umat di perbatasan Tapanuli, serta menyambungkan sanad suci Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari Basilam hingga ke Batuhula.

Kelahiran

Tuan Syekh Mukhtar Ritonga Batuhula lahir pada hari Ahad, 30 Oktober 1904 Masehi bertepatan dengan 20 Sya’ban 1322 Hijriah di Desa Gapuk Julu, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

Perjalanan Menuntut Ilmu ke Basilam, Langkat

Menjelang usia remaja, beliau diberangkatkan oleh orang tua dan masyarakat kampung menuju Babussalam, Basilam, Langkat, Sumatra Timur, untuk menuntut ilmu agama.

Di Basilam, beliau menempuh pendidikan dasar agama Islam di Madrasah Islamiyah yang meliputi ilmu tauhid, fikih, tafsir, dan hadis. Selain itu, beliau mengikuti suluk Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah bersama Tuan Guru Babussalam, Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi, yang lahir pada 28 September 1811 Masehi di Danau Runda, Rokan Hulu, dan wafat pada 27 Desember 1926 Masehi di Besilam, Langkat. Syekh Abdul Wahab Rokan merupakan pendiri persulukan Babussalam, pusat Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah terbesar di tanah Melayu, murid dari Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubis, Makkah, serta telah membuka lebih dari dua ratus cabang persulukan di Sumatra dan Semenanjung Melayu.

Pada masa beliau bersuluk di Basilam, terdapat beberapa ulama asal Tapanuli Selatan yang juga berguru di sana, di antaranya Syekh Abdul Manan Siregar, yang lahir pada tahun 1884 Masehi di Pagaran Dolok (Langsar), Sipirok, dan wafat pada tahun 1989 Masehi di Padangsidimpuan, yang menjadi khalifah untuk wilayah Tapanuli Selatan dengan pusat dakwah di Ujung Padang, Padangsidimpuan Selatan. Selain itu, Syekh Ramadhan Siregar, yang diperkirakan lahir pada tahun 1880–1895 Masehi di Sipirok dan wafat pada tahun 1960–1970-an di Pematang Siantar, yang menjadi khalifah untuk wilayah Simalungun dan Pematang Siantar.

Setelah beberapa tahun mengabdi untuk menuntut ilmu dan bersuluk kepada Tuan Guru Basilam, beliau kembali ke kampung halaman untuk menjenguk orang tua sekaligus melangsungkan pernikahan dengan Boru Harahap dari Desa Maheam, Marancar. Setelah menikah, beliau kembali ke Basilam. Setibanya di sana, Syekh Abdul Wahab Rokan telah wafat. Kemudian, senior beliau, Syekh Ramadhan Siregar, mengajak Syekh Mukhtar Ritonga ke Pematang Siantar untuk melanjutkan suluk. Di Pematang Siantar inilah beliau memperoleh ijazah sebagai mursyid dari Syekh Ramadhan Siregar. Dengan demikian, Syekh Ramadhan Siregar merupakan guru yang memberikan ijazah mursyid, sedangkan Syekh Abdul Manan Siregar merupakan senior seperguruan.

Dari pernikahannya dengan Boru Harahap, beliau dikaruniai tiga belas orang anak. Berdasarkan naskah keluarga yang ada, di antaranya bernama Sarah, Aminah, Jalaluddin, Maryam, Nursiti, Abdul Rahman, Abdul Rohim, dan Kamaluddin Ritonga, serta lima orang anak lainnya yang menjadi bagian dari keluarga besar Batuhula.

Menjadi Guru Agama dan Mursyid

Setelah kembali dari Pematang Siantar, beliau membuka persulukan dan menjadi Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Beliau aktif berdakwah melalui ceramah agama ke berbagai desa serta menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Isra Mikraj, dan penyambutan bulan suci Ramadan.

Pada masa tersebut, beliau menunaikan ibadah haji ke Makkah Al-Mukarramah. Setelah kembali dari tanah suci, beliau pindah ke Desa Batuhula, Kecamatan Batangtoru, dan mendirikan persulukan sebagai pusat peribadatan. Selain di Batuhula, beliau juga membuka cabang persulukan di beberapa tempat lain, antara lain di Lobu Layan, Sigordang, Kecamatan Angkola Barat, di Angkola Sangkunur, di Desa Gapuk Julu, Desa Aek Holbung, Banjar Melayu, Kecamatan Batang Natal, serta memimpin suluk di Barus dan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Dalam kehidupan sehari-hari di Batuhula, beliau mengelola kebun karet dan kolam ikan mas di depan persulukannya. Apabila tiba masa panen, beliau mempersilakan masyarakat untuk mengambil ikan dan hasil kebun secara gratis.

Persulukan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Syekh Mukhtar Ritonga dikenal sebagai seorang mursyid yang taat beribadah, wara’, tegas dalam pendirian, dan ikhlas dalam beramal. Beliau bersikap ramah dalam pergaulan sehingga dihormati dan disegani oleh masyarakat.

Beberapa kali beliau membawa jamaahnya berziarah ke makam Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan di Basilam dan ke makam Tuan Syekh Ramadhan Siregar di Pematang Siantar. Beliau juga berbagi pengalaman dakwah dengan seniornya, Tuan Syekh Abdul Manan Siregar.

Selain itu, beliau pernah melakukan perjalanan silaturahmi antar-mursyid ke Bukit Tinggi untuk menemui Syekh Muhammad Thahir Jalaluddin Al-Falaki. Beliau yang ditemui tersebut bernama lengkap Syekh Muhammad Thahir bin Muhammad bin Muhammad Thahir Jalaluddin Al-Falaki Al-Azhari, yang lahir pada hari Selasa, 4 Ramadan 1286 Hijriah bertepatan dengan 8 Desember 1869 Masehi di Kampung Cangkiang, Koto Tuo Balai Gurah, Ampek Angkek, Bukittinggi, dan wafat pada 26 Oktober 1956 Masehi di Bukittinggi.

Syekh Thahir Jalaluddin merupakan cucu dari Syekh Jalaluddin Cangkiang yang bergelar Tuan Syaikh Koto Tuo, pendiri Surau Cangkiang sejak tahun 1207 Hijriah atau 1792 Masehi di Koto Tuo, Canduang, Ampek Angkek, Bukittinggi, serta cicit dari Tuanku Nan Tuo, ulama besar pada masa Perang Padri. Syekh Thahir Jalaluddin menempuh pendidikan di Surau Cangkiang, Makkah, sehingga dikenal sebagai ulama ahli ilmu falak dengan gelar Al-Falaki. Karya terkenalnya antara lain kitab Nathijatul ‘Umr yang membahas ilmu falak serta jadwal waktu salat dan arah kiblat. Beliau merupakan Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah untuk wilayah Agam dan menjadi rujukan utama ulama Sumatra dalam penentuan hari besar Islam.

Pertemuan Syekh Mukhtar Ritonga Batuhula dengan Syekh Thahir Jalaluddin yang terjadi sebelum tahun 1956 merupakan pertemuan dua mursyid yang memiliki sanad Khalidiyah yang sama untuk memperkuat sanad tarekat sekaligus berkonsultasi mengenai ilmu falak guna menentukan jadwal keluar suluk selama dua puluh hari yang bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.

Sebelum melaksanakan suluk, beliau terlebih dahulu mengajarkan ilmu tauhid untuk mengenal sifat-sifat Allah, kemudian dilanjutkan dengan ilmu fikih dan akhlak. Setelah itu, barulah beliau mengajak jamaah berzikir kepada Allah dengan berbagai tata cara yang berlaku dalam persulukan. Beliau sangat tekun dalam beribadah sehingga terpancar hubungan yang erat antara fikih dan tasawuf.

Selama menjalankan amaliah di persulukan, beliau beserta seluruh jamaah tidak mengonsumsi makanan yang berdarah sebagai upaya menekan hawa nafsu. Suluk dilaksanakan setiap tahun selama dua puluh hari dan waktu keluarnya bertepatan dengan Hari Raya Iduladha. Tawajuh dilaksanakan setiap malam Selasa dan malam Jumat di dalam persulukan. Di luar waktu suluk, banyak jamaah dan masyarakat yang datang untuk berbagai keperluan, seperti masuk tarekat, berobat, dan mencari barang yang hilang.

Beliau senantiasa memberikan nasihat kepada jamaahnya:
“Kejarlah dunia, pasti tidak akan dapat. Kalaupun dapat, pasti tidak banyak. Kalaupun banyak, pasti tidak puas. Kalaupun puas, pasti tidak lama. Tetapi jika akhirat yang dikejar, pasti akan dapat. Jika sudah dapat, pasti banyak. Jika sudah banyak, pasti puas. Jika sudah puas, abadi selamanya.”

Karamah Beliau

Masyarakat menceritakan beberapa karamah beliau, selain dalam hal pengobatan dan menemukan barang hilang, di antaranya sebagai berikut.

Pada suatu sore, hujan disertai angin badai berembus dari arah utara menuju persulukannya. Beliau melihat angin besar dan kencang yang ditumpangi oleh banyak jin hendak menghantam gedung persulukan. Kemudian, beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan secara spontan angin tersebut berbelok ke arah kanan sehingga menghantam atap rumah penduduk, sedangkan gedung persulukan selamat.

Berdasarkan pengakuan muridnya, ketika keluar dari suluk, Syekh Mukhtar Ritonga menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Iduladha di Desa Lobu Layan. Pada waktu yang bersamaan, murid dari Desa Sangkunur menyatakan bahwa Syekh berada di Sangkunur, Batangtoru, untuk menyembelih kurban. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa beliau berada di dua tempat dalam waktu yang sama dengan izin Allah.

Demikianlah dakwah Syekh Mukhtar Ritonga di Desa Batuhula, Batangtoru, dalam mengembangkan ajaran Islam. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, kehadiran beliau juga berperan penting dalam membendung penyebaran agama lain dari wilayah Tapanuli Tengah.

Beliau wafat pada hari Selasa, 5 April 1977 Masehi bertepatan dengan 16 Rabiul Akhir 1397 Hijriah pada usia tujuh puluh tiga tahun dan dimakamkan di desa kelahirannya, Gapuk Julu, Marancar, Tapanuli Selatan.

Penutup

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat, magfirah, dan rida-Nya kepada Tuan Syekh Mukhtar Ritonga Batuhula beserta seluruh guru dalam silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, yaitu Syekh Abdul Wahab Rokan, Syekh Abdul Manan Siregar, Syekh Ramadhan Siregar, Syekh Thahir Jalaluddin Al-Falaki, dan Syekh Jalaluddin Cangkiang.

Semoga Allah menjadikan makam beliau sebagai Raudhah min Riyadil Jannah, menerima segala amal ibadah, dakwah, serta sedekah kebun karet dan kolam ikan mas yang beliau berikan, dan menjadikan ketiga belas orang anak keturunannya, khususnya Sarah, Aminah, Jalaluddin, Maryam, Nursiti, Abdul Rahman, Abdul Rohim, dan Kamaluddin Ritonga, sebagai generasi saleh yang melanjutkan perjuangan beliau.

Semoga ilmu dan tarekat yang beliau tinggalkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga Hari Kiamat. Al-Fatihah.

Populer Minggu ini

Spa Alami di Kaki Gunung Sorik Marapi: Huta Raja Menjaga Harmoni

Oleh: Moechtar Nasution Di kaki Gunung Sorik Marapi yang menjulang,...

Dokter Paru Se-Indonesia Berkumpul di Padang, Wamenkes dan Gubernur Sumbar Soroti Isu Kesehatan Respirasi

SumutNews.co, Padang – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menggelar...

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Sebut Presiden Dapat Masukan Keliru Soal Perkaranya

​SUMUTNEWS.CO, Jakarta — Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Atika Azmi Pimpin HKTI Madina, Tiga Isu Krusial Menanti Penyelesaian

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Kepengurusan baru Himpunan Kerukunan Tani...

Berita Terkait