Dibunuh Sepi, Dihidupkan Emoji (Menelanjangi Krisis Validasi dan Berhala Ego Manusia Modern)

Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lingkar Studi Tulila *

Pernahkah Anda duduk di sebuah kafe bising, dikelilingi puluhan orang, jempol sibuk scrolling lini masa Instagram atau TikTok, tetapi di dalam dada ada sesuatu yang mendadak kosong? Semacam angin malam yang menyelinap lewat celah pintu, dingin dan tak kasatmata. Kita terhubung dengan ratusan “teman” digital, tombol like terus berkedip, namun entah mengapa, perasaan terasing itu tetap datang tanpa diundang. Selamat datang di era modern—sebuah zaman unik di mana kita bisa menjadi makhluk paling terkoneksi sekaligus paling kesepian dalam sejarah peradaban. Kita dikepung oleh teknologi yang menjanjikan kedekatan, tetapi kenyataannya, layar gawai kita justru sering kali berubah menjadi tembok tebal yang memisahkan kita dari kehangatan yang nyata. Kita adalah kerumunan jiwa-jiwa yang ramai di luar, namun compang-camping di dalam.

Ramai di Medsos, tapi Sepi di Dunia Nyata

Masyarakat urban hari ini sedang terjebak dalam sebuah paradoks yang menggelitik. Kita menciptakan istilah-istilah keren seperti me-time, healing, hingga tren bergengsi bernama solitude culture. Menyendiri dirayakan sebagai simbol kemandirian dan kelas sosial yang estetik. Kita mendewakan kesendirian lewat foto-foto sudut kamar yang rapi atau cangkir kopi yang berpendar disorot lampu temaram. Namun, jujur saja, begitu layar ponsel mati dan lampu kamar dipadamkan, romantisasi itu sering kali runtuh seketika. Ruang yang kita sebut estetik itu mendadak berubah menjadi ruang sidang yang mengadili isi kepala kita sendiri. Di sinilah kita harus jeli membelah helai rambut emosi antara dua kata yang sering tertukar: sepi dan kesendirian.

Kesendirian (solitude) adalah kemewahan. Ia adalah tindakan sukarela untuk mundur sejenak dari riuh rendah dunia demi menemui diri sendiri. Saat Anda memilih menyusuri jalanan kota malam hari dengan pelantang telinga, atau sengaja mematikan data internet seharian untuk menata ulang isi lemari pakaian, Anda sedang mendekap kesendirian. Di ruang ini, tidak ada rasa menderita atau kesia-siaan. Yang ada hanyalah proses kreatif yang mengalir, kepala yang mendadak rapi, dan jiwa yang sedang mengisi ulang baterainya yang telanjur aus oleh tuntutan dunia. Ide-ide besar dunia justru lahir ketika manusianya berani karantina mandiri di dalam kepalanya sendiri, meramu imajinasi tanpa interupsi orang asing.

Sebaliknya, kesepian (loneliness) adalah sebuah alarm darurat. Ia adalah jarak emosional antara hubungan yang didambakan dengan realitas hubungan yang dimiliki. Kesepian bukan karena kurangnya jumlah manusia di sekitar kita, melainkan karena absennya rasa yang dipahami. Anda bisa berada di tengah pesta ulang tahun teman dekat, ikut bernyanyi dan meniup lilin, tetapi pulang dengan perasaan hampa yang luar biasa. Ironisnya, kebudayaan populer  justru menjadi pabrik kosmetik untuk menutupi borok ini. Kita kecanduan stimulasi visual agar pikiran tidak punya waktu untuk merenung atau menyadari bahwa diri kita sedang rapuh. Kita berteman dengan algoritma, membiarkannya menyuapi kita dengan tontonan tanpa henti, hanya agar kita tidak perlu mendengar suara batin sendiri yang sedang menangis minta ditemani.

Setiap Jam Sibuk Mengintip Tombol “Like”

Bahkan karena kesepian itu, status media sosial kita pun bolak-balik berganti minimal tiga kali sehari, persis seperti orang yang minum obat sesuai resep dokter. Pagi-pagi sekali, ketika matahari bahkan belum sepenuhnya tegak, cerita  histori WhatsApp sudah penuh dengan kutipan bijak tentang ketabahan hidup dan motivasi pagi. Siang hari, postingan bertambah lagi—tiba-tiba saja mengunggah foto sepiring makanan di meja kafe, seolah ingin memberi tahu dunia bahwa ada aktivitas sosial yang sedang kita lakoni. Beranjak sore dan malam, satu unggahan lagi meluncur, kali ini berupa petikan hadis, firman Allah SWT, atau potongan lirik lagu melankolis sebagai tameng penenang jiwa yang mulai goyah.

Baca juga:  7 Ayat dari Beragam Surah Al-Qur'an Menegaskan, Apapun Jenis Rencana & Perbuatan Berdampak Pada Pelakunya

Semua riak digital itu sebenarnya adalah jeritan sunyi yang samar: Anda merasa perlu diperhatikan orang lain dengan semua status medsos itu. Setiap satu jam sekali, atau bahkan setiap beberapa menit, jempol anda refleks membuka aplikasi, melakukan scrolling berulang-ulang hanya untuk memeriksa apakah ada tanda merah baru di pojok layar. Lalu anda akan menghitung dengan cermat berapa orang yang meninggalkan emoji love atau jempol di sana.

Hanya itu saja putaran lingkaran setan pekerjaan anda setiap hari—mau saat sedang bersantai di rumah, atau bahkan di tengah tumpukan berkas kantor sekalipun. Di balik layar kaca ponsel yang dingin, ada jiwa yang luar biasa haus. Anda sangat butuh validasi dan pengakuan dari dunia luar. Mengapa? Karena kita kelelahan dihakimi oleh kurasi “hidup sempurna” milik orang lain yang lewat di beranda kita setiap detiknya. Kita ketakutan dianggap tertinggal, takut dianggap tidak bahagia, dan ketakutan dicap sebagai manusia yang gagal oleh standar semu internet (FOMO).

Kamu Tidak Kasih Jempol, Aku Balas Acuh

Tragisnya, transaksi emosional ini bertransformasi menjadi kalkulasi politik dagang yang sangat picik dan kekanak-kanakan. Ketika Anda melihat kawan-kawan anda jarang memberikan emoji love atau jempol di berbagai lini masa anda, ego anda mendadak terluka. Anda mencatat nama-nama mereka diam-diam dalam memori digital anda sendiri. Maka, sebagai bentuk aksi balasan, anda pun sengaja berbuat hal yang sama. Saat kawan anda membuat beberapa status yang sebenarnya menarik dan ilmiah, anda sengaja melewatinya begitu saja tanpa ketukan jari—semacam boikot sunyi demi memuaskan rasa gengsi. Kita saling menahan jempol, saling menguji siapa yang paling acuh dan paling berkuasa, padahal di dalam hati sama-sama merana menanti perhatian yang tidak kunjung datang. Kita terjebak dalam perang dingin digital yang kita ciptakan sendiri.

Bahkan, hari anda bisa langsung mendung dan dipenuhi rasa kecewa berat jika setelah berjam-jam mengunggah sesuatu yang menurut anda keren, kolom komentar anda sepi, hanya dipenuhi oleh dua komentar saja. Yang lebih menyedihkan lagi, anda tahu betul dari mana asal dua baris ketikan itu. Komentar tersebut tidak lahir dari ketertarikan atau diskusi yang tulus, melainkan dari kawan dekat anda yang sebenarnya sudah merasa kasihan terlebih dahulu melihat postingan anda terombang-ambing tanpa interaksi selama berjam-jam. Mereka berkomentar hanya demi menyelamatkan muka anda dari rasa malu sosial di ruang publik digital. Sebuah sedekah digital yang ironisnya tetap kita lahap dengan rakus saking kelaparannya kita akan pengakuan dari luar diri kita sendiri.

Pagi Jadi Ustaz, Siang Kulineran, Sore Jadi Motivator

Saking liarnya perburuan akan pengakuan ini, anda bahkan mampu berganti jubah pakaian spiritual dan intelektual dalam hitungan jam, hanya demi mengikuti arus keinginan validasi tersebut. Di suatu pagi, saat anda menukilkan hadis sahih atau firman Tuhan di story medsos, saat itu anda memakai jubah kesalehan dengan begitu anggun. Lewat ketikan itu, seolah-olah andalah manusia yang paling religius se-kabupaten ini, mengemban beban moral seluruh umat di pundak digital anda. Namun, tunggu sampai siang tiba. Begitu anda memposting foto sepiring makanan estetis, jubah itu berganti. anda mendadak merasa menjadi seorang kritikus makanan kelas dunia, penenun cita rasa, atau penikmat kuliner sejati yang paling paham seni mencicipi hidup.

Lalu, begitu sore menyapa dan mendung tipis datang, anda berganti peran lagi. Berbekal kutipan puitis hasil curian dari internet, anda merasa bertransformasi menjadi seorang motivator ulung yang sedang membagikan resep rahasia tentang ketabahan hidup. Anda berbicara seolah-olah telah melewati ribuan badai kehidupan, siap menyelamatkan jiwa-jiwa lain yang tersesat.

Baca juga:  CARA GONTOR MENGAJARKAN KEDEWASAAN BERNEGARA

Ah, kalau mau jujur dan berani menatap cermin, semua itu sebenarnya hanyalah panggung sandiwara. Sebuah opera sabun digital yang penuh dengan intrik, kepalsuan, dan manipulasi psikologis tingkat tinggi. Kita tidak sedang menjadi ustaz, kulineris, atau motivator. Kita hanya sedang menjadi bunglon yang ketakutan kehilangan panggung penonton.

Penulis Tanpa Jiwa dan Pakar yang Menjemukan

Ego modern kita ini memang lihai mencuri panggung. Tengok saja bagaimana anda mendadak merasa menjadi seorang penulis besar setelah melemparkan berbagai judul opini di platform media sosial. Anda membusungkan dada di kolom komentar, menikmati pujian yang datang, padahal hampir semua orang di lingkaran dekat anda tahu betul bahwa itu semua murni bukan hasil pergolakan pemikiranmu sendiri. Kalimat-kalimat megah itu hanyalah hasil rangkuman, jiplakan, atau bahkan ketikan mesin pintar yang anda klaim sebagai buah kontemplasi malam sunyi. Anda mabuk oleh predikat “pujangga” atau “pemikir” yang disematkan netizen, padahal tulisan anda kehilangan satu hal paling mendasar: jiwa penulisnya yang jujur.

Hal yang sama terjadi ketika anda berdiri di mimbar-mimbar formal. Anda mendadak merasa sangat pintar dan superior setelah berhasil melalui perdebatan di berbagai seminar atau ruang diskusi. Anda akan pulang dengan senyum puas, merasa telah mencerahkan isi dunia. Padahal, jika anda mau menurunkan sedikit saja keangkuhan itu, realitasnya jauh lebih pahit. Banyaknya orang yang diam dan buru-buru merapikan tas ketika sesi tanya jawab dibuka, sebenarnya bukan karena mereka terkesima oleh kedalaman ilmu yang anda miliki. Keheningan di ruangan itu adalah cara halus audiens untuk mengartikan bahwa materi yang anda bawakan terasa sangat menjemukan, garing, dan kehilangan pijakan membumi. Mereka diam bukan karena kalah argumen, melainkan karena sudah lelah mendengarkan paparan  anda yang narsis.

Semua pertunjukan itu sebenarnya adalah bagian dari berhala “keakuan” dan ego yang sedang kelaparan di dalam diri kita. Kita tidak lagi mengajar, makan, atau menulis untuk menikmati esensinya, melainkan memaksa dunia untuk melihat ego kita yang sedang telanjang dan menggigil kedinginan di tengah badai sepi. Kita lupa bahwa di balik topeng-topeng hebat dan jubah instan itu, ada manusia biasa yang sebenarnya hanya sedang kelelahan setengah mati. Lelah berpura-pura tahu segalanya, lelah harus selalu terlihat suci tanpa cacat, lelah menyembunyikan sisi manusiawi kita yang penuh salah, dan lelah menjadi sutradara bagi kepalsuan hidup kita sendiri demi menyenangkan penonton di jagat maya.

Ketakutan akan kesunyian ini bahkan sudah merembet ke saraf biologis dan fisik kita tanpa kita sadari. Pernahkah anda mendadak merogoh saku celana atau tas karena merasa ponsel Anda bergetar, tetapi saat diperiksa layarnya hitam pekat tanpa ada satu pun notifikasi yang masuk? Para psikolog menyebutnya Phantom Vibration Syndrome—sindrom getaran palsu. Tubuh kita sampai menciptakan delusi fisik yang nyata saking merananya saraf kita menunggu ketukan perhatian atau validasi dari orang asing di internet. Otak kita terus-menerus menuntut dopamin instan dari setiap interaksi digital. Kita sedang benar-benar dibunuh sepi di dunia nyata, dan gawai di tangan kita adalah tabung oksigen darurat yang mengalirkan udara kepalsuan agar kita tidak mati gaya.

Berhentilah Berlari, Mari Pulang ke Diri Sendiri

Selama ini, kita salah kaprah memperlakukan rasa sepi seperti musuh bebuyutan yang harus diusir secepat mungkin. Ketika ia datang mengetuk pintu hati, kita panik bukan main. Kita langsung menyalakan televisi atau memutar musik dengan volume keras agar ada suara bising yang memenuhi ruangan, atau menelepon sembarang orang hanya untuk membunuh waktu yang bergulir lambat. Kita takut pada sunyi, karena di dalam sunyi yang jujur, semua pertanyaan paling menakutkan yang selama ini kita kubur dalam-dalam—tentang luka masa lalu yang belum sembuh, kecemasan masa depan yang kabur, dan kepalsuan hubungan yang kita pelihara selama ini—mendadak bangkit dan menuntut untuk dijawab secara jantan.

Baca juga:  Membaca Arah Demokrasi Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Atas Pasal Penghinaan KUHP

Keintiman sejati tidak akan pernah lahir dari pelukan orang asing atau validasi riuh rendah dari ratusan likes di luar sana. Keintiman yang paling radikal, sekaligus paling menyembuhkan, justru lahir ketika anda berani duduk diam sendirian di kamar, memeluk lutut sendiri, dan menyapa rasa sepi itu seperti seorang sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertamu. Anda tidak lagi berlari atau menghindar darinya menggunakan gawai. Anda melihatnya secara utuh, mengakuinya dengan lapang dada, dan berbisik pelan, “Aku tahu kamu sedang terluka dan merasa lelah, dan tidak apa-apa untuk merasakannya sekarang.”

Saat anda mulai berani mendekap kerapuhan itu tanpa buru-buru mencari pelampiasan atau gila validasi, keajaiban kecil yang menenangkan mulai terjadi di dalam dada anda. Benang-benang sepi yang tadinya terasa mengekik, perlahan-lahan melonggar dan memberikan ruang untuk bernapas lega. Anda mulai menikmati kembali ritme napas Anda sendiri tanpa interupsi.

Di titik itulah, sepi yang tadinya terasa hampa dan mematikan, perlahan-lahan berubah wujud menjadi kesendirian yang penuh, tenang, dan bermakna (solitude). Mengubah kesepian yang menyiksa menjadi kesendirian yang menenangkan adalah seni budaya personal yang harus kita pelajari dan latih kembali di era modern ini. Caranya sederhana namun butuh keberanian: turunkan ego yang tinggi, batasi konsumsi panggung sandiwara media sosial, dan mulailah berinvestasi pada satu atau dua hubungan di dunia nyata yang berkualitas. Cari hubungan di mana anda bisa berbicara apa adanya tanpa perlu menyortir kata, dan didengar seutuhnya tanpa perlu takut dihakimi.

Penutup

Sepi tidak akan pernah benar-benar hilang dari kamus hidup manusia karena ia adalah bagian dari takdir eksistensial kita sebagai makhluk bernyawa. Namun, ketika kita mampu menurunkan senjata ego dan berani berteman dengan diri sendiri, kesendirian tidak lagi menakutkan seperti hantu di kamar kosong yang gelap. Selimut kehangatan sejati yang mampu melindungi kita dari dingin dan kejamnya dunia luar bukanlah riuh rendah tepuk tangan penonton maya, melainkan selimut tenang yang kita rajut sendiri dengan jemari kesabaran di dalam ruang sunyi hati kita yang paling dalam.

Maka cobalah memulainya mulai malam ini, cobalah matikan layar ponsel mewahmu itu sedikit lebih cepat. Tarik napas yang segar, biarkan dunia berjalan tanpamu untuk beberapa jam, dan terimalah dirimu dengan segala kelelahan yang ada. Media sosial mungkin bisa menghidupkanmu lewat sekejap emoji cinta, tetapi hanya kedamaian dengan diri sendirilah yang mampu membuatmu benar-benar hidup seutuhnya. Layar gawai itu terlalu sempit untuk menampung luasnya jiwamu; melangkahlah keluar, temui sunyi, dan saksikan bagaimana ia menjelma menjadi sebuah rumah hangat tempatmu pulang, melepas seluruh topeng, lalu berbisik lirih penuh kelegaan pada cermin, “Aku aman, aku utuh, dan aku cukup bersama diriku sendiri.”

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Populer Minggu ini

Bupati Madina Lantik Pengurus TP PKK Periode 2026–2030, Harap Semangat Baru dan Inovasi Program

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah...

Cegah Sejak Dini, Satresnarkoba Polres Tapsel Sosialisasikan Bahaya Narkoba ke Santri

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan - Penyalahgunaan narkoba menjadi ancaman serius...

Dorong Kesejahteraan, Pemkab Madina Gelar Job Fair Sediakan 304 Lowongan Kerja

SUMUTNEWS.CO, Mandailing Natal - Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah...

Siap Kolaborasi, Pemko Padangsidimpuan dan Noit Racing Team Bahas Konsep Event Otomotif HUT Kota

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Wali Kota Padangsidimpuan, Dr. H. Letnan...

Dada Terasa Sempit Ketika Bergantung Pada Manusia dan Dirinya sendiri: Ini Petunjuk Obatnya.

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Sebagai Pembuka maka mari Kita semua...

Berita Terkait