SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-6)

Produksi: Yayasan Al Farizi Nusantara

Esai Reflektif Spiritual Bersambung

Episode 6:
Tamasya Ke Sundaland: Pintu Gerbang Sundaland

Oleh: S Purwadi Mangunsastro

Pagi itu, jadwal penerbangan menuju Soekarno-Hatta semakin dekat. Setelah mengurus bagasi dan memegang tiket, saya langsung menuju antrean panjang di ruang tunggu bandara. Padatnya calon penumpang memaksa setiap orang untuk melatih kesabaran.

Suasana tertib ini mengingatkan saya pada transformasi layanan KRL Commuter Line Jakarta oleh Ignasius Jonan. Perubahan sistem yang tegas kala itu sukses mengubah kebiasaan masyarakat menjadi lebih disiplin dan menghargai aturan. Budaya mengantre yang kini menjadi standar kenyamanan publik sangat terasa manfaatnya, bahkan saat menghadapi kepadatan bandara pagi ini.

Di kursi ruang tunggu seperti inilah, beberapa tahun yang lalu, seorang pria setengah baya meminta izin untuk duduk di sebelah saya. Saat itu, ia sedang menanti penerbangan ke Padang tujuan yang sama dengan saya kala itu. Setelah lama berpisah sejak pertemuan tersebut, kami kembali terhubung melalui sambungan telepon. Melalui percakapan itulah saya baru mengetahui sebuah fakta unik. Beliau mengaku telah membuntuti saya dari jauh ketika dilihatnya saya memasukii ruang chek in, hingga akhirnya kami duduk berdampingan di area ruang tunggu keberangkatan. Mungkin rasa kantuk dan keasyikan mengurus tiket boarding dan bagasi membuat saya kurang peka terhadap situasi sekitar kala itu.

Beberapa saat setelah mengenang peristiwa itu, panggilan merdu dari pengeras suara meminta kami segera menuju pintu keberangkatan. Antrean rapi menuju penerbangan Soekarno-Hatta pun mulai mengular. Pemandangan yang sungguh membanggakan. Andai saja kebiasaan tertib seperti ini menyebar ke seluruh sendi kehidupan bangsa, tentu tidak akan ada lagi sampah berserakan di jalanan, atau bahkan korupsi yang menggerogoti negeri ini. Ah, pikiran saya terlalu jauh mengawang. Apa pula hubungan antara antrean bandara dan korupsi?

Dewi Pergiwa-Pergiwati

Di dalam kabin pesawat, saya langsung mencari dan menempati kursi pilihan di dekat jendela, berharap bisa segera terlelap begitu kantuk menyerang. Proses take-off berjalan sangat mulus. Embusan udara sejuk AC kabin perlahan membawa seluruh penumpang ke dalam kesenyapan yang menenangkan.

Namun, kesadaran saya mendadak kikuk. Saya merasa tidak sedang terbang, melainkan masih duduk di ruang tunggu yang mendadak berubah riuh. Suasana seketika berjejal dan sesak. Anehnya, tempat ini jelas bukan Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi tujuan saya. Desakan orang-orang kian meringsek, saling berebut mendongak demi melihat pemandangan di depan. Di dalam keremangan ruang gelap itu, samar-samar terlihat siluet bentuk “Love” bercahaya terang dengan tulisan besar terpampang di atas sebuah gapura megah: Pintu Gerbang Sundaland.

Tak jauh dari gerbang, siluet beberapa wanita dewasa berdiri anggun di bagian ruangan yang temaram. Dua orang di antara mereka berjalan beriringan mendekati pintu. Mereka mengenakan seragam yang sangat familier, menyerupai pramugari udara, meski entah dari maskapai apa. Secara ajaib, kedua wanita berseragam itu berjalan membelah kerumunan massa yang tengah berebut masuk. Jantung saya berdesir hebat saat mereka justru melangkah lurus ke arah saya, lalu menggandeng saya melewati gerbang besar tersebut.

Saya tertegun. Di bawah cahaya yang temaram, terlihat jelas pramugari itu mengenakan siger Sunda yang anggun di kepalanya. Di dadanya terpampang papan nama Dewi Pergiwa, dan pengiringnya bernama Pergiwati. Tanpa sepatah kata pun dan dengan wajah memancarkan keramahan, mereka memandu saya memasuki sebuah ruang temaram.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Masyaallah, pajangan diorama raksasa bagaikan kejadian hidup nyata terlihat melebihi apa yang pernah saya lihat di Aichi World Expo (Nagoya Expo Dunia) 2005. Alih-alih menunggu arahan pemandu, pandangan saya justru terkunci pada sebuah diorama Sundaland di tengah ruangan yang nyaris tak berbatas.
Saya terkesima. Kompleksitas visual kehidupan alam purba hingga masa kerajaan di masa lalu itu benar-benar mengagumkan. Saya terpaku, sesekali bergidik hebat karena takjub sekaligus ngeri. Namun, saya menikmatinya dan tidak ingin melewatkan sudut sajian terakhir itu.

“Permisi, Bapak, jika hidangannya sudah selesai, boleh saya bersihkan?” Sayup-sayup sebuah suara lembut menyusup ke telinga, membuyarkan segalanya. Astagfirullah. Saya mengerjapkan mata dan langsung tersadar. Rupanya saya telah tertidur sangat pulas di dalam badan pesawat. Ketakjuban mistis Sundaland tadi hancur lebur, berganti dengan kenyataan bahwa saya kini sedang menyantap hidangan penerbangan yang nyata.
Alhamdulillahirabbilalamin. Pesawat mendarat dengan mulus sesuai jadwal di Bandara Soekarno-Hatta. Bergegas saya mengambil bagasi dan menuju ke layanan Kereta Api Bandara menuju Jakarta. Ini adalah pertama kalinya saya menikmati fasilitas Kereta Bandara. Di dalam gerbong kereta, suasananya akan lebih santai sehingga saya tidak akan kehilangan momentum terbaik untuk mengingat perjalanan tamasya Sundaland yang saya nikmati di penerbangan tadi. Saya akan mencatatnya dengan cermat.

Di gerbong kereta api kembali saya teringat mimpi tadi dan berusaha mengingat setiap detail kejadiannya. Saya juga berniat mencari artikel tentang Sundaland yang pernah saya tulis di media sosial. Dari sana, saya ingin menelusuri sinkronisasi dari apa yang baru saja saya alami di dalam mimpi.

Keratuan Sundaland

Sembari duduk santai, saya membuka kembali artikel tentang Sundaland yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu. Melalui tulisan tersebut, saya mencoba menelusuri dan menyelaraskan makna dari kilasan mimpi yang baru saja hadir dalam tidur saya di pesawat. Di dalam artikel tersebut, saya sempat menuliskan:

“Aksiologi ‘Keratuan Sundaland’ merupakan kajian tentang nilai-nilai dan moralitas yang diasumsikan berasal dari hipotesis peradaban kuno di wilayah geografis Sundaland (Paparan Sunda). Wilayah daratan purba ini kini telah terendam di bawah Laut Jawa, Selat Malaka, dan perairan di sekitarnya.”

Istilah Sundaland digunakan secara ketat oleh para ilmuwan dalam konteks paleogeografis dan biogeografis, bukan sebagai entitas politik tunggal. Daratan purba ini mencakup wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Semenanjung Malaya yang menyatu pada Zaman Es (Pleistosen, sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun lalu).

Konsep “Keratuan Sundaland” tidak memiliki konsensus ilmiah karena ketiadaan bukti sistem politik formal prasejarah. Daratan ini kemudian tenggelam secara bertahap akibat kenaikan permukaan air laut pasca-Zaman Es (pemanasan global alami). Fenomena inilah yang memicu spekulasi populer bahwa Sundaland merupakan lokasi dari peradaban Atlantis yang hilang, sebuah alegori yang diungkapkan oleh Plato pada abad ke-4 SM melalui dialog Timaeus dan Critias.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-5)

Dalam diskusi nonakademis, narasi Sundaland didekati melalui aksiologi—cabang filsafat yang mempelajari nilai, etika, dan kegunaan ilmu pengetahuan. Alih-alih mencari kebenaran empiris struktur politik “keratuan “, kajian ini berfokus pada manifestasi nilai moral masyarakat pascatenggelamnya Sundaland bagi manusia modern. Nilai-nilai luhur tersebut meliputi:
• Religiusitas (Ketuhanan): Sistem kepercayaan awal animisme dan dinamisme yang mencerminkan kedekatan spiritual dengan alam semesta.
• Adaptasi Maritim: Ketangguhan ekologis masyarakat kepulauan dalam merespons dinamika perubahan geografis dan lingkungan perairan.
• Solidaritas (Gotong Royong): Pola hidup menetap yang melahirkan sistem komunal, kerja sama, dan koordinasi sosial yang kuat.
• Keterampilan Teknik: Kemampuan navigasi bahari dan teknologi dasar prasejarah yang membutuhkan ketekunan tinggi.

Filosofi Semut dan Refleksi Teologis: Integrasi Memori dalam Tantangan Bangsa

Karakter gotong royong masyarakat purba ini merefleksikan filosofi “Semut“—simbol kerja keras komunal yang terorganisasi. Secara teologis, filosofi ini berkelindan dengan kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an (QS. An-Naml: 18-19). Dalam ayat tersebut, dikisahkan kebijaksanaan Nabi Sulaiman saat mendengar peringatan seekor ratu semut kepada koloninya agar segera masuk ke dalam sarang agar tidak terinjak. Kisah ini mengajarkan empati sekaligus menjadi alegori pentingnya sistem pertahanan komunal, kesadaran kolektif terhadap bahaya, dan kerendahan hati dalam memimpin.

Menghubungkan memori kolektif Sundaland dengan filosofi semut ini bukanlah romantisme sejarah, melainkan alat kritis untuk mengurai krisis moral Indonesia saat ini. Melalui rekonseptualisasi tersebut, analisis terhadap tantangan bangsa menghasilkan tiga pilar resolusi:
• Rekonsiliasi Genealogi (Persatuan Asal-Usul): Migrasi pasca-Sundaland membuktikan bahwa keberagaman Nusantara berasal dari satu akar leluhur yang sama. Kesadaran ini memperkuat prinsip innamal mu’minuna ikhwah (persaudaraan universal) dan meredam konflik sektarian.
• Kesadaran Ekologis Berbasis Sejarah: Pola bertahan hidup masyarakat purba Sundaland dalam menghadapi bencana harus menjadi inspirasi modern. Di tengah perubahan iklim, memori ini menjadi dasar moral untuk merumuskan kebijakan lingkungan yang adaptif di wilayah kepulauan.
• Transformasi Humanisme Generasi Muda: Generasi muda harus mengadopsi etos semut, yaitu bergotong royong tanpa hierarki yang menindas. Pendekatan ini membebaskan pemuda dari polarisasi politik identitas dan membumikan Pancasila dalam tindakan nyata.

Aktualisasi dan Urgensi Gerakan

Kesadaran sejarah akan masa lalu tidak akan mengubah apa pun tanpa pembenahan spiritualitas saat ini. Indonesia membutuhkan lompatan besar berupa Taubatan Nasuha Nasional. Gerakan pemulihan moral kolektif ini harus dipelopori oleh tokoh bangsa, agamawan, dan elemen reformasi.
Dalam tradisi lokal, gerakan spiritual-kolektif ini mirip dengan konsep Ruwatan Moral Bangsa. Ruwatan ini menjadi syarat utama untuk membersihkan moralitas dan menyongsong kebangkitan peradaban baru. Gerakan ini merupakan refleksi mendalam dari QS. Al-Furqan ayat 27–29 yang menggambarkan penyesalan manusia akibat salah memilih pemimpin dan lingkaran pertemanan:

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika itu) orang-orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku tidak menjadikan si fulan itu temanku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika peringatan itu datang kepadaku. Dan setan itu adalah pengkhianat manusia”

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-3)

Sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) ini berkaitan dengan Uqbah bin Abi Mu’aith dan Ubay bin Khalaf. Uqbah kembali memusuhi Nabi Muhammad SAW hanya demi menjaga solidaritas pertemanan yang sesat akibat hasutan Ubay. Di akhirat, mereka digambarkan menggigit tangan sebagai simbol penyesalan mendalam karena mengikuti pengaruh buruk lingkungan.

Secara umum, ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang menyimpang dari petunjuk Allah. Penyesalan di akhirat tidak lagi berguna bagi mereka yang mengkhianati kebenaran demi dunia.

Menuju Peradaban Baru

Kebangkitan sejati Indonesia hanya dapat dicapai jika tiga hal berjalan beriringan yakni pemahaman sejarah geologis, pelestarian budaya gotong royong dan keteguhan iman.

Perpaduan nilai sejarah Nusantara kuno—seperti memori Sundaland—dan peringatan spiritual ini menyadarkan kita tentang masa depan peradaban baru. Nusantara bukan sekadar simbol budaya atau legenda lokal. Wilayah ini bisa menjadi ruang lahirnya peradaban yang diberkahi Allah di masa depan.

Sejarah mencatat banyak tokoh besar menjadi jalan (wasilah) perubahan dunia karena spiritualitasnya: Maryam menjadi pintu kehadiran Nabi Isa, Hajar melahirkan mata air Zamzam, dan Khadijah menjadi pilar pendukung awal kenabian Muhammad saw. Nilai-nilai spiritualitas yang menggerakkan sejarah tersebut tidak pernah usang, bahkan menjelma dalam corak kehidupan modern hari ini. Ketika seseorang meyakini “La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah“, maka sisa hidupnya di sepanjang masa—dalam ruang dan waktu yang berbeda sekalipun—adalah bentuk tanggung jawab personal langsung di hadapan Tuhannya. Dalam konteks modern, tantangan menjaga kebersamaan dalam keberagaman dapat kita refleksikan dari dinamika masyarakat Muslim di Amerika Serikat yang berpandangan inklusif. Seorang sahabat yang menetap di sana bertutur bahwa mereka mengutamakan ikatan iman universal, mengedepankan nilai kemanusiaan (perdamaian dan keadilan), serta tumbuh inklusif tanpa terjebak pelabelan faksi politik keagamaan.

Kereta terus melaju membawa potongan gagasan yang silih berganti muncul di kepala. Saat ini, satu-satunya hal yang saya inginkan adalah segera tiba di penginapan strategis di pusat kota. Di sanalah, dalam keheningan, saya ingin menuliskan kembali dengan tenang setiap kepingan diorama Sundaland yang berputar di pikiran. Saya meyakini bahwa melalui sintesis nilai masa lalu, keteguhan spiritual, dan keterbukaan global, pembangunan karakter masyarakat (Character and Nation Building) akan menjadi kekuatan besar penggerak era peradaban baru manusia.

—–

Judul Episode 6 dibelah didapati :

QS. Surah Al-Kahfi (28) ayat 21: menceritakan kisah ditemukannya para pemuda penghuni gua (Ashabul Kahfi) setelah tertidur lama. Peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah dan kepastian Hari Kiamat, yang membuat masyarakat saat itu berselisih paham hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan tempat ibadah di sekitar gua tersebut.

Pokok Isi dan Pelajaran:

Bukti Kebangkitan & Kiamat: Pertemuan tersebut menjadi bukti nyata kemampuan Allah membangkitkan manusia, menghilangkan keraguan masyarakat akan hari akhir.

Keputusan Mendirikan Masjid: Pihak yang berwenang (berkuasa) memutuskan untuk mendirikan tempat ibadah di dekat situs gua tersebut.

Berita Terbaru

El-Sisi Tegaskan Dukungan Militer Mesir untuk Arab Saudi Tak Termasuk Serangan ke Yaman

SumutNews.co, Kairo - Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menegaskan...

MENJAGA SANAD, MERESPON ABAD: SELAMAT HARI SANTRI

Oleh: Moechtar Nasution Direktur Forum Lingkar Studi Tulila * Pendahuluan Ada bias...

Siswi SMAN 1 Padangsidimpuan Cinta Septrini Perkuat Tim Bola Tangan Sumut di Kejurnas 2026

SumutNews.co, Medan — Siswi SMA Negeri 1 Padangsidimpuan, Cinta...

Selamat Datang Prajurit, 450 Personel Yonif 123/Rajawali Pulang Lengkap Setelah Tugas di Papua

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan - Kepulangan 450 prajurit Satuan Tugas Pengamanan...

Polsek Sipirok Ajak Warga Baringin Jadi Mitra Aktif Menjaga Keamanan Lingkungan

SUMUTNEWS.CO, Tapanuli Selatan - Upaya menjaga keamanan lingkungan membutuhkan...

Berita Terkait