SumutNews.co, Taiz — Kekhawatiran akan pecahnya fase mematikan baru dalam konflik Yaman mencuat setelah beredar laporan mengenai dugaan penggunaan senjata kimia oleh kelompok Houthi di kota Taiz. Sejumlah warga sipil dan personel pertahanan lokal dilaporkan mengalami gagal napas akut hingga kehilangan kesadaran seusai dihujani serangan artileri dan roket.
Menanggapi insiden tersebut, pemerintah Yaman menyerukan penyelidikan internasional independen oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
Berikut adalah sejumlah pernyataan resmi dari para pejabat dan otoritas terkait yang dihimpun pada Jumat, 30 Oktober 2026:
1. Nawfal Jawad, Direktur Kantor Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Bidang Politik
Nawfal Jawad secara terbuka menuding Houthi sengaja melepaskan zat kimia berbahaya ke kawasan pemukiman untuk melemahkan ketahanan warga Taiz.
“Ini adalah zat beracun yang dikerahkan milisi Houthi di Taiz untuk menundukkan warga sipil. Zat ini memicu sesak napas parah dan hilangnya kesadaran secara mendadak,” ujar Jawad kepada media, Jumat, 30 Oktober 2026.
Jawad menduga material kimia tersebut diselundupkan dari Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Pasukan Quds sepanjang 2024 hingga 2025 lewat jalur maritim sebelum tiba di pelabuhan Hodeidah. Ia juga mengkritik lambannya reaksi komunitas internasional dalam menindak pelanggaran kemanusiaan di Yaman.
2. Moammar Al-Eryani, Menteri Informasi Yaman
Menteri Informasi Yaman Moammar Al-Eryani menegaskan bahwa laporan penggunaan amunisi beracun di garis depan pertempuran, termasuk di Al-Aqroud dan Kahlan, merupakan eskalasi perang yang sangat berbahaya.
Al-Eryani mendesak PBB serta OPCW segera mengerahkan tim investigasi khusus ke Taiz untuk menguji residu amunisi dan sampel medis guna memastikan dugaan pelanggaran Konvensi Senjata Kimia (CWC).
3. Nabil Shamsan, Gubernur Taiz
Otoritas Kegubernuran Taiz menyatakan telah membentuk komite penyelidikan teknis di tingkat lokal. Gubernur Nabil Shamsan mengonfirmasi bahwa tim tersebut ditugaskan mengumpulkan bukti fisik selongsong peluru artileri, memeriksa rekam medis para korban, serta menghimpun keterangan saksi di lapangan menyusul gempuran proyektil gas di kawasan Jabal Sabir.
4. Mostafa Noman, Wakil Menteri Luar Negeri Yaman
Dalam siniar Arab Views, Mostafa Noman menilai penggunaan senjata non-konvensional menunjukkan rasa frustrasi pihak Houthi yang gagal merebut pusat kota Taiz secara total sejak pengepungan dimulai pada 2015.
“Saya tidak mengesampingkan penggunaan senjata terlarang semacam itu. Ini adalah indikasi nyata keputusasaan mereka untuk memaksa kota Taiz menyerah,” kata Noman.
5. Abdul-Malik Al-Houthi, Pemimpin Tertinggi Houthi
Di sisi lain, kubu Houthi membantah tudingan penyerangan dan pemblokadean terhadap pasokan warga sipil. Dalam pidato resminya pada Kamis, 29 Oktober 2026, Abdul-Malik Al-Houthi menegaskan bahwa tindakan militer dan blokade jalan yang mereka lakukan semata-mata menyasar pergerakan logistik militer lawan, bukan fasilitas sipil maupun bantuan pangan.
Krisis Kemanusiaan Kian Kritis
Di luar dugaan senjata kimia yang masih memerlukan uji forensik laboratorium independen, laporan lapangan mencatat eskalasi pertempuran di Taiz kian melumpuhkan sendi-sendi kehidupan warga:
Korban Jiwa: Jaringan Hak Asasi dan Kebebasan Yaman (Yemeni Network for Rights and Freedoms) melaporkan bahwa sejak 1 September hingga 29 Oktober 2026, tercatat 189 warga sipil tewas, 38 di antaranya anak-anak dan 27 perempuan, serta 281 orang luka-luka akibat tembakan artileri, roket Katyusha, dan serangan drone.
Ancaman Kejahatan Perang: Human Rights Watch (HRW) memperingatkan bahwa pemutusan akses vital jalan Hayjat Al-Abd oleh bahan peledak pada 18 Oktober 2026 berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang karena menggunakan metode pembiaran kelaparan (starvation) terhadap warga sipil.
Kolaps Layanan Kesehatan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sedikitnya 42 fasilitas kesehatan di Taiz kehabisan bahan bakar dan suplai medis dasar, memaksa Rumah Sakit Bersalin dan Anak Yaman-Swedia memangkas penggunaan inkubator bayi dari 40 unit menjadi hanya 10 unit yang aktif. (SN17)