JIHAD NALAR: WARISAN BUYA SYAFII UNTUK MELAWAN ILUSI DIGITAL

Oleh: Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *

Beberapa bulan yang lalu, di sela-sela rasa lelah pulang dari kantor, telepon genggam saya mendadak menyala. Sebuah notifikasi masuk dari grup percakapan, membawa tawaran lowongan kerja paruh waktu yang sekilas tampak sangat menggiurkan. Modusnya sederhana, kita hanya diminta menyukai beberapa video di media sosial, lalu dijanjikan komisi hingga ratusan ribu rupiah per hari. Di bawah pesan tersebut, rentetan testimoni manis dari orang-orang yang mengaku mendadak kaya langsung bertumpuk, lengkap dengan ajakan untuk menyetor modal awal dalam sebuah skema investasi.

Gerak tipu ini dirancang dengan kemasan yang rapi sekaligus menggiurkan, bahkan dengan berani mencatut nama perusahaan besar supaya kesannya memiliki akuntabilitas dan track record yang bonafide. Bisa jadi umpan mereka tersebut berhasil karena sudah menjadi perbincangan serius di kalangan anggota grup. Pada detik itulah saya mengambil kesimpulan bahwa kita akan menjadi sasaran empuk dari manipulasi digital.

Fenomena harian yang meresahkan ini seketika melemparkan ingatan saya pada warisan pemikiran berharga dari almarhum Ahmad Syafi’i Ma’arif. Tokoh bangsa yang akrab kita sapa Buya Syafii ini seolah melompati zaman ketika memopulerkan istilah jihad nalar di paruh awal dekade 2000-an. Saat itu, sekitar tahun 2005 lewat bukunya Meluruskan Makna Jihad, Buya gelisah melihat kata jihad disempitkan oleh kekerasan. Beliau lalu menawarkan sebuah otokritik yang tajam bahwa medan perang sejati adalah isi kepala kita sendiri. Siapa sangka, gagasan yang lahir dua dekade lalu itu kini menemukan musuh barunya yang jauh lebih canggih, bukan lagi peluru fisik, melainkan banjir bandang informasi sampah yang setiap hari merusak kewarasan, menguras isi dompet, dan meruntuhkan akal sehat masyarakat.

Baca juga:  MENULIS DALAM DIAM

Jika kita berani menatap realitas tanpa topeng, media sosial yang kita genggam setiap detik memang tidak pernah dirancang untuk membuat kita menjadi manusia yang bijaksana. Target industri ini sederhana, yaitu membuat kita betah menatap layar selama mungkin. Sialnya, dalam bisnis digital, bahan bakar yang paling murah sekaligus efektif untuk memicu interaksi adalah eksploitasi emosi. Rasa ingin cepat kaya, ketakutan tertinggal tren, dan kecemasan ekonomi adalah komoditas yang paling laku dijual. Sistem ini membaca apa yang sedang kita butuhkan, lalu dengan setia menyuapi kita dengan iklan penipuan yang sudah disesuaikan dengan kondisi psikologis kita.

Dampaknya terasa sangat nyata dan mengerikan. Kita dikurung dalam sebuah ruang gema privat, di mana kita hanya melihat apa yang ingin kita percayai. Kita mendadak kehilangan daya kritis hanya karena iming-iming angka nominal di layar gawai. Dunia digital seolah memaksa kita mengambil keputusan secara instan dan emosional, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk berpikir logis dan mengambil jarak.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan belakangan ini. Ketika teknologi manipulasi berkembang tanpa kendali, prinsip kuno bahwa melihat adalah mempercayai kini resmi kedaluwarsa. Lewat bukti transfer fiktif, testimoni rekayasa, hingga manipulasi algoritma yang presisi, mata dan telinga kita bisa ditipu mentah-mentah. Narasi kemakmuran instan sekarang memiliki wajah, memiliki data statistik, bahkan memiliki dokumen legalitas buatan yang tampak sangat resmi.

Baca juga:  JANGAN MERASA SUCI, DOSAMU CUMA TERSEMBUNYI

Di sinilah letak nilai moral dari gagasan Buya Syafii. Menjaga pikiran tetap jernih bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup agar terlihat pintar saat berkumpul. Ini adalah sebuah kewajiban etis dan perjuangan suci. Ketika panca indera kita begitu mudah dikelabui oleh teknologi, nalar kritis adalah benteng pertahanan terakhir agar kita tidak menjadi korban yang mudah disetir oleh para penipu siber.

Lantas, bagaimana wujud konkret dari jihad nalar ini? Langkahnya sederhana, namun menuntut keteguhan hati. Tindakan pertama adalah menahan jempol saat jemari kita gatal ingin mengeklik tautan yang menjanjikan kekayaan tanpa kerja keras. Langkah berikutnya adalah kerelaan meluangkan waktu beberapa menit untuk melakukan tabayyun atau memeriksa fakta ke otoritas terkait ketimbang langsung tergiur menyetorkan modal. Kita juga harus memiliki keberanian moral untuk berbisik pada diri sendiri bahwa jika suatu penawaran terdengar terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya itu memang palsu. Di tengah lautan manusia yang berlomba-lomba mengejar validasi dan kekayaan instan, memilih untuk tetap tenang dan logis adalah sebuah kemewahan etis yang langka.

Namun, ada satu catatan penting yang tidak boleh luput. Jihad nalar yang dicontohkan Buya Syafii bukanlah nalar yang angkuh. Ini bukan akal yang merasa paling pintar, lalu menghakimi korban penipuan di kolom komentar dengan sebutan bodoh atau serakah. Pemikiran Buya selalu berakar pada kerendahan hati dan kelembutan jiwa. Ada kesadaran penuh untuk merangkul dan mengedukasi sesama, karena di balik layar yang penuh jebakan itu, banyak masyarakat kita yang sebenarnya sedang terjepit situasi ekonomi dan membutuhkan perlindungan informasi.

Baca juga:  MENGEJA LUKA BERSAMA AIR MATA

Buya Syafii pernah memberikan peringatan yang sangat membekas, yaitu jika akal sehat suatu bangsa telah mati, kita sudah kalah tanpa perlu dijajah. Bangsa yang kehilangan daya kritisnya akan menjadi bangsa yang rapuh, mudah dimiskinkan secara sistemik, dan sangat mudah diadu donba hanya oleh isu-isu tidak penting di kolom komentar. Kita tidak perlu diserang secara militer, cukup buat masyarakat kita kehilangan akal sehat dan bangkrut secara finansial melalui layar gawai, maka kita akan hancur dengan tangan kita sendiri.

Pada akhir perjalanan rasa ini, moralitas digital kita tidak akan pernah diukur dari seberapa bijak kutipan yang kita pajang di status, atau seberapa keras kita memaki di media sosial. Keberanian sejati di era ini bukan milik mereka yang suaranya paling lantang atau komentarnya paling tajam. Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang di tengah badai informasi, jebakan investasi bodong, dan histeria massa, tetap mampu menjaga hatinya tetap dingin, prinsipnya tetap tegak, dan nalarnya tetap jernih.

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat  eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Berita Terbaru

Pemprov Sumut Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Sepanjang November 2026

SumutNews.co, Medan — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut)...

Mahfud MD Soroti Diksi Putusan MA Soal Suket Gibran: Berlaku Retroaktif dan Batal Sejak Awal

SumutNews.co, Jakarta - Mahfud MD membedah konsekuensi hukum di...

Menegakkan Peradaban Spiritual: Menghidupkan Energi Kebenaran Sundaland sebagai Mercusuar Dunia

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara,...

Hari ini Kemenhut Tetapkan Dua Korporasi Jadi Tersangka Karhutla, Salah Satunya Perusahaan Asing

Sumutnews.co, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi menetapkan dua...

Utusan Iran Temui Mediator Qatar di Doha, Redam Potensi Serangan AS Pasca-Pemilu Sela

Sumutnews.co, Doha - Para delegasi perunding Iran menggelar pertemuan...

Berita Terkait