Melawan Amnesia Sejarah: Bahtera Kebenaran di Tengah Era Pemerintahan Digital Kontemporer dan Momentum Kebangkitan Nasional

Oleh: S Purwadi Mangunsastro
(Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara)

Sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti pakaian. Ketika kita membaca baris demi baris dalam Surah Al-Mu’minun, khususnya saat menyandingkan ayat 50 dan 70, kita tidak sedang membaca dongeng usang tentang masa lalu. Kita sedang menatap cermin peradaban modern.

Benang merah yang terentang antara pembangkangan kaum terdahulu terhadap mukjizat Nabi Isa AS (ayat 50) dan penolakan elite Quraisy terhadap risalah Nabi Muhammad SAW (ayat 70) adalah potret nyata dari human nature (sifat dasar manusia). Hari ini, watak tersebut termanifestasi secara telanjang dalam realitas sosial, politik, dan ekonomi abad ke-21. Fenomena ini terpampang nyata di panggung pemerintahan digital kontemporer, di mana instrumen siber canggih seperti _Pegasus spyware_ disalahgunakan oleh jejaring elite demi memata-matai sesama pemegang kekuasaan, bahkan hingga menyasar Kepala Negara sebagai target utama.

Di era digital saat ini, benturan antara Al-Haq (kebenaran) dan kepentingan penguasa tidak lagi terjadi di pasar-pasar Makkah atau istana Firaun. Benturan itu telah bermigrasi ke dalam algoritma media sosial, ruang sidang korporasi, hingga panggung politik praktis di Istana Negara. Selama lebih dari satu dasawarsa terakhir, publik disuguhi drama politik yang tak berkesudahan: mulai dari pembodohan berbasis manipulasi asal-usul, rekam jejak elite demi meraih kekuasaan, polemik ijazah, hingga kasus korupsi sistemik yang tumpul di hadapan hukum. Di saat yang sama, rakyat kian menjerit akibat lonjakan harga kebutuhan pokok, merebaknya kemiskinan, serta tingginya angka pengangguran.

Baca juga:  KEDAULATAN DI UJUNG SERVER DAN MAKAR DIGITAL

Kebenaran objektif sengaja dikubur demi membangun opini pembenaran sepihak. Padahal, Ayat 50 mengingatkan kita bahwa kebenaran selalu hadir secara absolut. Di zaman kekinian, “bukti yang nyata” itu mewujud dalam bentuk data kemiskinan, kerusakan lingkungan akibat ketamakan industri, eksploitasi sumber daya alam oleh segelintir oligarki dan lingkaran dekat penguasa, serta ketimpangan sosial yang makin menganga.

Namun, mengapa respons dunia modern tetap sama dengan resistensi kaum terdahulu? Jawabannya termaktub dalam QS. Al-Mu’minun ayat 70: “Atau mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) gila.’ Padahal, dia telah membawa kebenaran (Al-Haq) kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka sangat membenci kebenaran itu.”

Hari ini, kebencian terhadap kebenaran tidak lagi disuarakan lewat teriakan “gila” kepada pembawa risalah. Narasi penolakan itu telah dimutakhirkan menjadi pembunuhan karakter (character assassination), fabrikasi hoaks, pemboikotan (cancel culture), hingga kriminalisasi terhadap pejuang keadilan. Kelompok elite modern—para pemilik modal yang serakah dan jejaring oligarki—merasa terancam oleh kebenaran. Sebab, kebenaran menuntut perubahan radikal: ia meminta manusia menata ego (noto-ego), meruntuhkan berhala keserakahan, menanggalkan ego sektoral, dan menghentikan gaya hidup mewah yang mengeksploitasi kaum lemah. Bagi para pemuja status quo, kebenaran adalah disrupsi yang mengancam zona nyaman mereka.

Refleksi mendalam atas keangkuhan ini menuntun kita pada satu kesadaran penuh: bangsa ini sedang menghadapi krisis hebat. Menjelang Hari Pahlawan 10 November, momentum 11-11 (11 November) tahun 2026 harus menjadi lonceng pengingat bagi kesadaran kolektif rakyat. Carut-marut pertikaian elite—mulai dari cengkeraman oligarki, intervensi elite global, gurita mafia koruptor, hingga gesekan antar-aparat penegak hukum—bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, krisis internal ini merupakan peluang emas sekaligus momentum fajar bagi bangsa ini untuk bangkit kembali dengan fondasi yang jauh lebih kokoh.

Baca juga:  Menegakkan Peradaban Spiritual: Menghidupkan Energi Kebenaran Sundaland sebagai Mercusuar Dunia

Dalam menghadapi fase krusial ini, kita patut merenungkan pola sejarah ( _sunnatullah_ ) yang berulang. Renungan spiritual atas Surah Al-Mu’minun ayat 50 sampai 77 memberikan konfirmasi nyata mengenai situasi pemerintahan yang sedang memburuk. Ayat-ayat tersebut membawa peringatan keras: penolakan terhadap kebenaran demi mempertahankan kemewahan duniawi pada akhirnya hanya akan berujung pada keruntuhan peradaban dan kehancuran sistemik.

Sejarah mencatat bagaimana Allah SWT konsisten mengirimkan kebenaran dari masa ke masa. Di satu sisi, kita diingatkan pada kisah Nabi Nuh AS yang diperintahkan membangun bahtera sebagai simbol keselamatan, keadilan, dan pembersihan dari kebatilan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Hud Ayat 37: “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami…” Wahyu tersebut menjadi garis pembatas tegas antara mereka yang memilih ikut dalam gerbong keselamatan dan mereka yang memilih berpaling.

Di sisi lain, QS. Al-Mu’minun Ayat 50 memberikan penegasan: “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata…” Ayat ini mengabadikan mukjizat Nabi Isa AS setelah memaparkan rentetan sejarah penolakan umat-umat terdahulu—mulai dari kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, hingga pembangkangan Firaun terhadap Musa dan Harun.

Menarik benang merah dari ayat-ayat tersebut, terlihat sebuah pola yang konsisten: kebenaran selalu dihadirkan, namun kerap kali ditolak akibat keangkuhan elite penguasa. Dalam konteks gerakan spiritual saat ini, kehadiran _Al-Mujaddid_ —yang diyakini umat Islam akan dihadirkan setiap 100 tahun sekali di tengah perubahan zaman—serta nubuat turunnya Nabi Isa di akhir zaman, menjadi pemandu spiritual dalam mengumandangkan seruan restorasi ini. Oleh karena itu, _Gerakan Kebenaran_ hadir sebagai program nyata untuk membumikan esensi Al-Qur’an sekaligus menjadi benteng pencegah kehancuran tersebut.

Baca juga:  Keutamaan Zikir "Subhanallahi Rabbil 'Alamin", Sedernana Tapi Manfaat Luarbiasa!

Fenomena global ini berkelindan erat dengan kosmologi Nusantara. Sebagaimana diramalkan Prabu Jayabaya, akan datang masanya era Kalasuba (zaman kebahagiaan dan kesejahteraan) menggantikan Kalatida (zaman keraguan dan kegilaan). Kejayaan baru bangsa hanya dapat diwujudkan dengan memadukan ketegasan kepemimpinan, pembersihan institusi secara transparan melalui reformasi taktis, serta penguatan kembali akar nilai spiritualitas.

Momentum 11 November adalah gerbang fajar kebangkitan spiritual sekaligus reformasi nasional. Ini adalah maklumat bagi kita untuk segera merapatkan barisan dalam gerbong Gerakan Kebenaran sebelum segalanya terlambat. Ketika tabir perubahan zaman telah dibentangkan di hadapan kita—yakni transisi krusial dari era kegelapan Kalabendu dan Kalatida menuju fajar pencerahan _Kalasuba_ —pilihan kini sepenuhnya kembali ke tangan kita masing-masing: ikut masuk ke dalam bahtera perubahan untuk melawan amnesia sejarah, atau hanyut tersapu badai krisis akibat keangkuhan ego yang tertinggal di masa lalu.
(sp.official.081126)

Berita Terkait

Restorasi Karakter Peradaban Indonesia: Menjaga Kemurnian Bangsa Melalui Rasionalisme Emansipatif dan Jangkar Etis Nusantara

Oleh: S. Purwadi Mangunsastro, Ketua Yayasan Al Farizi Nusantara Pendahuluan:...

Sinergi Pasukan TKR- Angkatan Gerilya Sipirok dan Pasukan Mujahidin di Tapanuli Selatan: Perang Gerilya Melawan Kolonial

Penulis : Rasyid Assaf Dongoran Peminat Sejarah Pendahuluan Masa Revolusi Fisik (1946–1949)...

Pentingnya Diklat Bagi Tenaga Pendidik Anak Berkebutuhan Khusus

SUMUTNEWS.CO - Opini | Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah...

Pilkada Medan: Akankah Partisipasi Pemilih Kembali ‘Anjlok’ ?

SUMUTNEWS.CO - Opini | Demokrasi mensyaratkan pemerintah harus memperoleh...

Kenapa Hari Jumat Sangat Istimewa dan Apa yang Terjadi pada Hari Jumat? Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis Sahih

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Dalam ajaran Islam, waktu tidak berjalan...

Berita Terbaru