KWEEKSCHOOL KE HIS: Sejarah Lembaga Pendidikan Kolonial di Padangsidimpuan 1857-1942

Penulis: Dr Zainal E Hasibuan

Kisah pendidikan di Padangsidimpuan tidak dimulai dari gedung megah di Jalan Merdeka, tapi dari sebuah dusun kecil bernama Padang Nadimpu di pinggir Sungai Batang Ayumi. Sampai awal abad ke-19, hampir tidak ada yang bisa baca tulis.

Bacaan Lainnya

Semuanya berubah pada Februari 1857. Asisten Residen Mandailing-Angkola, Godon, yang berkedudukan di Panyabungan, mendapat perintah dari Residen Tapanuli di Sibolga untuk membuka sekolah. Hingga Februari 1857, Godon telah mendirikan empat sekolah dengan total 50 murid yang tersebar di Panyabungan untuk Mandailing Godang, Padangsidimpuan untuk Angkola, dan Kotanopan untuk Mandailing Julu. Sekolah di Padangsidimpuan itulah sekolah formal pertama di Angkola.

Sekolah itu kekurangan guru. Godon melirik remaja cerdas dari Huta Pidoli Lombang, Sipirok, bernama Sati Nasution. Sati dibawa ke Belanda untuk dididik menjadi guru. Ia kembali dengan nama Willem Iskander.

Willem mengajukan permohonan mendirikan sekolah guru. Pemerintah Hindia Belanda menyetujuinya melalui dua besluit yang arsip aslinya kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta dan salinannya di Nationaal Archief Den Haag dalam inventaris 2.10.36 Ministerie van Koloniën. Besluit pertama keluar 5 Maret 1862 sebagai izin mendirikan, dan besluit kedua 24 Oktober 1862 menetapkan resmi berdirinya Kweekschool Tano Bato di Kelurahan Tano Bato, Panyabungan Selatan.

Willem mengajar selama 12 tahun dan menghasilkan 23 lulusan. Di Kweekschool itu bahasa Belanda mulai diajarkan 1865 dan menjadi wajib 1871, ditambah aritmatika, geografi, sejarah, ilmu alam, dan ilmu mendidik. Lulusan dari sekolah itu kemudian disebar ke 10 sekolah negeri yang pada 1870 telah berdiri di Natal, Panyabungan, Padangsidimpuan, Sibolga, Barus, dan Nias.

Willem Iskander wafat di Amsterdam 8 Mei 1876. Pemerintah menilai Tano Bato terlalu terpencil. Sementara itu sejak 1870 ibu kota Afdeling Mandailing en Ankola telah dipindahkan ke Padangsidimpuan. Maka tahun 1879 pemerintah mendirikan Kweekschool Padangsidimpuan di Jalan Merdeka Nomor 188, lokasi yang sekarang menjadi SMAN 1 Padangsidimpuan. Pada masa itu di seluruh Hindia Belanda hanya ada delapan Kweekschool: Surakarta 1852, Bukittinggi 1856, Tanah Batu 1864, Tondano 1873, Ambon 1874, Probolinggo 1875, Banjarmasin 1875, Makassar 1876, dan Padangsidimpuan 1879 sebagai yang terakhir.

Di Jalan Merdeka itu sekolah dipimpin oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dari tahun 1882 sampai 1890. Ia kelak menyusun Ejaan Van Ophuijsen tahun 1901, ejaan resmi pertama bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Yang menjadi tenaga pengajar andalan mendampinginya adalah Pangulu Lubis gelar Ja Parlindungan yang dikenal sebagai Guru Batak. Ia adalah salah satu murid paling cemerlang didikan Willem Iskander di Tano Bato, dan setelah lulus mengabdi sebagai guru yang berpindah-pindah dari Sipirok, Kotanopan, hingga Padangsidimpuan. Ia menulis Kitab Pengadjaran terbit di Batavia 1883. Pada tahun 1891 ia memberikan salinan naskah Willem Iskander berjudul De Komst Van De Islam In Mandailing kepada muridnya di Padangsidimpuan.

Di bangku sekolah Jalan Merdeka inilah dididik tujuh tokoh yang semuanya sekolah di Padangsidimpuan.

Pertama, Hoemala Mangaradja Hamonangan, lahir 1863 wafat 1933. Ia adalah lulusan Kweekschool Padangsidimpuan. Awalnya guru di Sipirok, kemudian pengusaha perkebunan di Padangsidimpuan.

Kedua, Dja Endar Moeda yang juga ditulis Ja Endar Muda. Ia mendapat gelar Radja Persuratkabaran Sumatera karena menjadi raja surat kabar Sumatera. Ia alumni Kweekschool Padangsidimpuan.

Ketiga, Rajiun Harahap gelar Sutan Casayangan Soripada, dalam arsip lain disebut Sutan Casajangan. Lahir di Batunadua Padangsidimpuan 30 Oktober 1879. Ia lulusan Kweekschool Padangsidimpuan dan kemudian di Leiden mendirikan Indische Vereeniging 1908, cikal bakal Perhimpunan Indonesia.

Keempat, Sutan Martua Raja Siregar, lahir 19 Desember 1873 di Sipirok. Masuk Sekolah Rakyat Sipirok 1884-1889, lalu melanjutkan di Kweekschool Padangsidimpuan tahun 1889 hingga 1893. Di bangku sekolah inilah ia mempelajari sejarah Batak dari gurunya Guru Batak. Kelak menjadi Direktur Normaalschool di Pematangsiantar dan anggota dewan kota.

Kelima, Sutan Pangurabaan Pane, lahir sekitar 1885 di Sipirok. Ia lulusan Kweekschool Padangsidimpuan dan dididik oleh Van Ophuijsen. Setelah lulus ditempatkan di Muara Sipongi mengelola HIS, lalu sejak 1914 menjadi wartawan Poestaha. Ia ayah dari Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Lafran Pane.

Keenam, Radja Goenoeng, lulusan Kweekschool Padangsidimpuan yang kemudian menjadi penilik sekolah dan ketua asosiasi guru di Sumatera Timur.

Ketujuh, Mangaradja Salamboewe, lulusan Kweekschool Padangsidimpuan yang kemudian menjadi editor surat kabar.

Tujuh nama ini adalah murid yang seluruh pendidikannya tercatat di Padangsidimpuan.

Namun kejayaan Kweekschool tidak lama. Arsip kolonial mencatat Kweekschool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano 1875, Padangsidimpuan 1891, Banjarmasin 1893, dan Makassar 1895 karena malaise. Arsip lain menyebut sekolah guru Padangsidimpuan harus ditutup pada 1892 karena kesulitan anggaran pemerintah.

Gedung di Jalan Merdeka tidak kosong lama. Setelah Kweekschool ditutup, lokasi tersebut kemudian digunakan sebagai Hollandsch Inlandsche School, sekolah dasar 7 tahun berbahasa Belanda untuk pribumi. Untuk rakyat biasa tetap ada Volkschool 3 tahun yang didirikan oleh lulusan-lulusan Kweekschool Padangsidimpuan. Dari HIS, murid berprestasi bisa lanjut ke MULO, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs.

Dari sistem berjenjang HIS dan MULO di Jalan Merdeka inilah Padangsidimpuan dikenal sebagai Kota Pendidikan. Dari sinilah lahir surat kabar Poestaha tahun 1914 yang dilanjutkan Parada Harahap, murid dari Sutan Martua Raja.

Era itu berakhir tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai Padangsidimpuan dan mengubah semua sekolah menjadi Kokumin Gakko. Belanda pergi, tapi fondasi dari besluit 5 Maret dan 24 Oktober 1862 itu tetap tinggal di Jalan Merdeka Nomor 188 Padangsidimpuan.

Referensi:

1. Besluit Gouverneur Generaal Hindia Belanda 5 Maret 1862 dan 24 Oktober 1862 tentang pendirian Kweekschool Tano Bato. Tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jakarta, kelanjutan Landsarchief 28 Januari 1892, dan salinan di Nationaal Archief Den Haag Inventaris 2.10.36 Ministerie van Koloniën.

2. Staatsblad dan Memorie van Overgave Afdeling Mandailing en Ankola 1870 tentang pemindahan ibu kota ke Padangsidimpuan.

3. Kroeskamp, H. (1974). Early Schoolmasters in a Developing Country. Van Gorcum. – tentang Pangulu Lubis sebagai murid paling cemerlang Willem Iskander di Kweekschool Tanobato.

4. Parlindungan, Ja (1883). Kitab Pengadjaran. Batavia: Landsdrukkerij – karya Pangulu Lubis gelar Ja Parlindungan.

5. Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu – tentang 23 lulusan Kweekschool Tanobato dan peran Willem Iskander.

Pos terkait