Oleh : Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)
Makanan kerap kali dipandang sekadar sebagai pemenuh kebutuhan biologis, pengisi lambung yang kosong, atau komoditas ekonomi yang dihitung dalam angka dan timbangan pasar. Namun di tangan seorang pemikir besar sekaligus ideolog ulung seperti Presiden Soekarno, makanan itu bermutasi menjadi sebuah instrumen politik yang tajam, simbol dari jati diri nasional yang kokoh, dan senjata diplomasi kebudayaan yang tiada tandingannya. Salah satu bahan pangan yang paling bersahaja dan memiliki ikatan historis, psikologis dan ideologis yang begitu kuat dengan Sang Proklamator, adalah daun ubi atau daun singkong.
Melalui selembar daun hijau yang merakyat dan tumbuh di sembarang pekarangan ini, Soekarno tidak hanya sekadar menunjukkan selera pribadinya yang jujur dan membumi, melainkan sedang merumuskan sebuah manifesto besar yang menggugah nurani tentang arti sejati dari kedaulatan pangan bangsa Indonesia.
Bagi Soekarno daun ubi bukanlah sejenis properti politik kosmetik yang mendadak dipamerkan secara teatrikal di panggung luar untuk mencari simpati sesaat, melainkan sebuah ritus keintiman hidup yang ia jalani setiap hari. Berdasarkan dokumentasi dan ingatan lisan para pengawal setianya, Bung Karno hampir selalu memulai paginya dengan menu sarapan yang teramat bersahaja yakni satu mangkuk kecil nasi putih, sayur daun singkong rebus yang polos, cocolan sambal terasi yang pedas menyengat, serta sepotong ikan asin.
Kebiasaan domestik inilah yang kemudian secara konsisten ia transformasikan ke tingkat makro kenegaraan. Bung Karno dikenal sangat membenci segala bentuk kepalsuan, kepura-puraan, dan kemewahan artifisial yang diadopsi secara mentah-mentah dari sisa-sisa budaya kolonial. Ketimbang menyajikan menu-menu bergaya Eropa yang borjuis dan berjarak dari realitas rakyatnya, ia justru memosisikan sayur daun ubi sebagai hidangan utama dalam berbagai perjamuan resmi di meja kepresidenan. Ketika menjamu para kepala negara asing, perdana menteri, atau korps diplomatik internasional, Bung Karno dengan rasa bangga yang meluap-luap memperkenalkan olahan daun ubi ini.
Langkah tersebut bukanlah sekadar jamuan makan malam seremonial, melainkan sebuah bentuk perlawanan kultural—sebuah pernyataan politik yang tegas bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, bangsa yang bangga akan apa yang lahir dari keringat buminya sendiri, dan sama sekali tidak merasa perlu untuk mendiktekan seleranya pada standar ataupun tatapan bangsa barat.
Namun di balik kecintaan dan keberpihakannya pada pangan rakyat tersebut, tersimpan sisi karakter Bung Karno yang sangat perfeksionis, luar biasa pemilih, dan sama sekali tidak mengenal kata kompromi jika menyangkut kualitas rasa dan penyajian. Bagi Bung Besar, kesederhanaan bahan makanan tidak boleh sekali-kali dijadikan pembenaran atau dalih untuk melakukan pengolahan yang serampangan, asal-asalan, atau tanpa jiwa.
Ketegasan watak yang nyaris tanpa ampun ini pernah mewujud dalam sebuah peristiwa historis yang sempat membuat seisi dapur Istana Negara mendadak mencekam dan diselimuti kepanikan. Suatu hari, tim juru masak istana menghadapi situasi darurat karena persediaan pucuk daun ubi yang benar-benar muda, segar, dan lembut habis di pasar. Didesak oleh waktu penyajian makan malam yang kian menjepit, sang juru masak mengambil keputusan yang teramat nekat. Ia tetap memasak sayur menggunakan lembaran daun ubi yang sudah agak tua, dengan harapan bahwa bumbu gulai yang pekat, gurih, dan sarat dengan rempah-rempat dapat menyamarkan teksturnya yang berserat kasar.
Ketika hidangan diletakkan di hadapan Bung Karno, sebuah kemarahan yang tak terduga pun pecah di ruang makan. Hanya dengan sekali cecapan tipis di ujung lidahnya, sang Presiden langsung menangkap adanya sebuah kelalaian dan ketidakjujuran dalam proses memasak. Tekstur kaku, ulet, dan serat kasar dari daun ubi tua itu seketika merusak standar estetika rasa sang Presiden yang terbiasa menikmati kelembutan pucuk daun yang lumer di mulut. Seketika itu juga, Bung Karno tidak kuasa menahan suaranya. Suaranya yang menggelegar—suara bariton berwibawa yang biasanya digunakan untuk membakar semangat jutaan massa di berbagai rapat dan podium kini bergema di dalam ruang makan istana, diarahkan langsung kepada kepala juru masak yang seketika itu juga tertunduk diam dan gemetar ketakutan.
Kemarahan Soekarno dalam insiden “daun ubi tua” ini jika dibedah secara mendalam memperlihatkan sisi psikologisnya yang seorang perfeksionis kultural. Bung Karno meradang hebat bukan karena ia sedang bersikap manja, rewel, atau menuntut kemewahan layaknya para bangsawan dan raja-raja Eropa kuno. Sama sekali bukan. Beliau marah karena ia merasa masakan rakyat jelata telah direndahkan, dinodai, dan dinilai murah justru oleh bangsanya sendiri melalui cara pengolahan yang tidak acuh dan sembarangan.
Baginya, jika selembar daun ubi ingin diangkat derajatnya ke atas meja istana untuk bersanding dengan para tokoh penting dunia sebagai lambang kebanggaan nasional, maka proses penanamannya, pemetikannya, hingga teknik memasaknya harus dilakukan dengan rasa penghormatan yang tertinggi. Karakter Soekarno adalah karakter seorang seniman kehidupan yang memandang makanan bukan sekadar tumpukan kalori, melainkan sebuah karya seni visual dan rasa yang memiliki martabat. Pucuk daun ubi yang benar-benar muda dan lembut adalah manifestasi dari kemurnian, kelembutan, sekaligus kesempurnaan alam Indonesia yang sejati. Ia menolak kepalsuan, bahkan ketika kepalsuan itu disembunyikan di bawah pekatnya kuah gulai.
Menariknya, kecintaan pada daun ubi ini bukanlah monopoli Bung Karno seorang diri. Lembaran daun hijau bersahaja ini nyatanya merupakan sebuah simfoni rasa kolektif yang juga digemari oleh para bapak bangsa (founding fathers) lainnya. Dalam catatan sejarah domestik, Mohammad Hatta dikenal sangat disiplin dalam menjaga kebugaran tubuhnya lewat konsumsi sayur-sayuran, di mana rebusan daun singkong dan urap menjadi menu wajib yang selalu disiapkan oleh Suyatmi Surip, juru masak setia keluarga Hatta sejak zaman revolusi.
Sementara itu Sutan Sjahrir, Sang Perdana Menteri yang berotak cemerlang dan berpendidikan modern Barat, juga merawat kedekatan jiwanya dengan tanah air melalui daun hijau ini. Dalam catatan hariannya selama masa pembuangan politik yang getir di Banda Neira, Sjahrir mengisahkan bagaimana keterbatasan logistik justru menuntun para tokoh bangsa untuk membumi, memetik daun-daun hijau liar, serta memasak singkong dan ubi bersama sebagai lambang persaudaraan senasib sepenanggungan.
Romantisme masa gerilya dan kepahitan di balik jeruji besi kolonial inilah yang menyatukan memori rasa para tokoh bangsa. Bagi mereka, daun ubi adalah monumen pengingat akan ketulusan rakyat kecil yang menyembunyikan dan memberi mereka makan. Dinamika emosional dan sosiokultural inilah yang kemudian dilembagakan melalui megaproyek kebudayaan nasional berupa penyusunan kitab kuliner Mustika Rasa pada era 1960-an atas inisiasi langsung dari Bung Karno. Buku dokumentasi terbesar setebal seribu halaman lebih tersebut mencatat ribuan resep autentik dari Sabang sampai Merauke, termasuk mendokumentasikan variasi daun ubi tumbuk khas Mandailing (gule bulung gadung) sebagai bentuk pengakuan ilmiah-antropologis bahwa makanan rakyat adalah pilar peradaban yang agung.
Lebih jauh lagi jika dilihat dari kacamata sosiologis, pilihan politis para tokoh bangsa untuk menaruh daun ubi di atas meja makan istana sesungguhnya adalah sebuah gerakan radikal “dekolonisasi lidah”. Selama berabad-abad masa penjajahan, kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan memeras tenaga, tetapi juga berhasil mengerdilkan mentalitas psikologis bangsa melalui pembentukan stigma sosial bahwa makanan Barat adalah simbol peradaban yang superior, sementara pangan lokal dicap sebagai sesuatu yang primitif dan terbelakang. Dengan menyuguhkan daun ubi di atas meja perjamuan tertinggi, para pemimpin republik sedang meruntuhkan batas-batas inferioritas dan mentalitas inlander tersebut. Mereka membuktikan kepada dunia bahwa kebudayaan milik rakyat memiliki nilai estetika dan kehormatan yang setara, bahkan mampu melampaui standar bangsa penjajah, asalkan kita memiliki keberanian mental yang merdeka untuk memuliakannya tanpa rasa minder.
Dari sudut pandang budaya modern hari ini, relasi mendalam antara para bapak bangsa dan daun ubi memberikan sebuah otokritik yang teramat tajam terhadap realitas ketahanan pangan kita. Di era modern sekarang, bangsa ini sering kali terjebak pada serbuan makanan barat (West) seperti French Fries, Steak, Pasta dan sebagainya. Tren kuliner global perlahan mulai menggeser eksistensi makanan lokal ke pinggiran sejarah, diiringi kebangkitan kembali stigma keliru masa lalu bahwa mengonsumsi pangan alternatif non-beras atau sayuran kebun adalah indikator kemiskinan.
Maka dari itu adalah sebuah kekeliruan berpikir yang teramat besar dan dangkal jika hari ini kita masih menilai keagungan makanan tradisional hanya dari sudut pandang strata ekonomi yang sempit. Jadi bagi kita yang hidup di Mandailing ini dan hampir setiap hari memakan daun ubi, jangan pernah sekalipun berkecil hati atau merasa rendah diri. Kesederhanaan di atas piring makan itu sama sekali bukanlah penanda dari ketertinggalan nasib ataupun simbol kemiskinan hidup. Namun sebaliknya seharusnya berbanggalah setinggi-tingginya, karena daun ubi yang bersahaja itu turut memberikan peran yang teramat nyata dalam rajutan sejarah besar republik ini.
Sadarilah dengan takzim bahwa daun ubi yang anda makan hari ini, itu juga pernah dilahap dengan penuh nikmat oleh Sang Proklamator dan para bapak bangsa. Daun ubi yang sedang anda kunyah di rumah seharusnya membawa getaran memori kolektif yang sama dengan makanan yang dahulu melintasi lidah para raksasa Sejarah. Ketika kita menikmati sepiring daun ubi tumbuk yang hangat di tengah keluarga, kita tidak sedang memakan sisa-sisa keterbatasan, melainkan sedang merayakan sebuah kemewahan rasa yang sehat dan sebuah warisan kebudayaan yang teramat luhur.
Melalui selembar daun hijau yang membumi tersebut, sejarah telah menorehkan pesan abadi yang menggugah jiwa bahwa harga diri dan kedaulatan sebuah bangsa tidak akan pernah diukur dari seberapa mahal hidangan asing yang diimpor dan disajikan, melainkan dari keberanian, rasa cinta, dan rasa bangga bangsa tersebut untuk senantiasa menghargai, menyempurnakan, dan memuliakan apa yang telah disediakan oleh tanah airnya sendiri.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (1967). Buku Masakan Indonesia Mustika Rasa: Resep2 Masakan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jakarta: Departemen Pertanian RI.
Kompas. (2021, 10 Desember). Melihat Sisi Humanis dari Selera Lidah Presiden Soekarno. Kompas.id.
Martowidjojo, M. (2011). Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967 (Catatan kenangan mantan komandan pengawal pribadi). Jakarta: Gryphon Books.
Rizal, J. J. (Penyunting). (2020). Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno. Depok: Tim Komunitas Bambu.
Sjahrir, S. (1945). Indonesische Overpeinzingen (Terjemahan: Renungan Indonesia). Jakarta: Djambatan.
Soerastri, H. (1966). Catatan Domestik Dapur Istana: Koleksi Menu dan Kegemaran Bung Karno. Jakarta: Yayasan Harapan Rakyat.
Swasono, M. (Penyunting). (1981). Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
VOI. (2022, 10 Agustus). Presiden Soekarno dan Kegemarannya pada Sayur Daun Singkong. Voi.id.





