Sumutnews.co, JOMBANG — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri langsung agenda pembukaan hingga penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Dalam forum Penutupan Muktamar tersebut, Kepala Negara memaparkan arah kebijakan efisiensi dan pembenahan struktur pemerintahan di hadapan para kiai dan warga nahdliyin.
Respons Tudingan Kabinet Gemuk
Menjawab kritik publik mengenai postur kabinet yang dinilai terlalu besar, Presiden Prabowo memberikan perbandingan objektif terkait skala tata kelola pemerintahan dengan negara lain
“Pemerintahan koalisi yang cukup besar, 7 partai dari 8 partai di parlemen, dan kabinet yang saya susun pernah dikatakan kabinet gemuk dan tidak efisien. Padahal ada negara Timor Leste yang jumlah penduduknya hanya 1 juta, lebih kecil dari banyak provinsi di Indonesia, kabinetnya 28 orang,” ujar Presiden Prabowo
Penutupan BUMN Bermasalah dan Penghematan Rp50 Triliun
Presiden menegaskan bahwa tolok ukur efisiensi terletak pada tindakan nyata dalam menata aset negara yang tidak produktif. Langkah tegas telah diambil dengan membubarkan ratusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terus-menerus merugi.
“Kita telah menutup 290 BUMN yang tidak punya kinerja baik dan yang rugi. Dari langkah tersebut, kita telah menghemat anggaran sebesar Rp50 triliun,” tegasnya.
Penghematan APBN bernilai fantastis tersebut akan dialokasikan kembali untuk mendukung program-program prioritas nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas, termasuk penguatan ekonomi kerakyatan, pendidikan, dan layanan kesehatan. (SN 08)





