MENGEJA LUKA BERSAMA AIR MATA

Oleh: Moechtar Nasution
Direktur Forum Lingkar Studi Tulila *

Belakangan saya sering  mengamati linimasa media sosial yang kian hari bertambah bising. Di sana, layar gawai kita telah menjelma menjadi panggung sandiwara terbesar dalam sejarah peradaban. Semua orang seperti diwajibkan memakai topeng kebahagiaan. Kita dikepung rapat oleh apa yang sering disebut sebagai toxic positivity—sebuah diktator sosial baru yang memaksa kita untuk selalu terlihat sukses, tangguh, tersenyum lebar, dan bergerak tanpa henti. Etalase digital mengurasi dinamika hidup yang rumit menjadi begitu steril, dangkal, dan seragam. Seolah-olah, menjadi gagal, merasa lelah, atau bersedih adalah sebuah dosa besar yang memalukan dan harus disembunyikan rapat-rapat.

Ini adalah paradoks ganjil abad ke-21. Kita mampu terhubung dengan siapa saja di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik, tetapi di saat yang bersamaan, kita justru merasa sangat terasing dan kesepian di dalam kamar sendiri. Peradaban modern yang menuntut efisiensi tinggi ini memandang rasa lelah sebagai bentuk kemalasan atau cacat produksi sosial. Lagipula, sistem hari ini memang dirancang untuk memperlakukan manusia seperti angka statistik.

Akibatnya, kesedihan diasingkan dari ruang publik dan air mata dianggap sebagai gangguan estetika. Kita perlahan-lahan kehilangan hak paling mendasar sebagai makhluk hidup: hak ekologis untuk merasa rapuh. Tidak heran jika belakangan ini grafik gangguan kesehatan mental, fenomena smiling depression, hingga kasus burnout massal terus meroket. Coba saja tengok wajah-wajah kuyu kelas pekerja komuter di dalam kereta Commuter Line Jabodetabek saat jam pulang kerja, atau kecemasan para buruh korban PHK massal industri tekstil di Majalaya yang belakangan marak di pemberitaan. Masyarakat kita sebenarnya sedang sakit, justru karena dipaksa untuk terlihat sehat secara instan dan artifisial.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-2)

Bahasa Otentik Jiwa

Namun, ada titik kritis di mana jiwa manusia tidak bisa lagi diajak berkompromi dalam kebohongan. Ketika beban di pundak sudah terlalu padat menyumbat dada dan kosakata di kepala mendadak macet, manusia akan kehabisan kata-kata. Logika kerap kali menyerah ketika dihadapkan pada realitas yang terlalu perih. Pada titik nadir inilah, air mata mengambil alih tugas lisan yang gagal diselesaikan oleh lidah.

 

Menangis sama sekali bukan tanda dari mentalitas yang lembek atau bentuk kekalahan eksistensial. Toh, air mata adalah bahasa moral yang paling jujur dan otentik ketika hati sudah terlalu lelah untuk bercerita. Ada luka-luka batin yang terlalu abstrak untuk didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan ada himpitan hidup kontemporer yang terlalu melelahkan jika harus diurai dalam kalimat formal yang kaku.

Secara sosiologis dan humanis, kita perlu membongkar cara pandang budaya kita yang telanjur keras dan maskulin. Kebudayaan sering kali keliru dengan mengaitkan tangisan dengan kerapuhan emosional yang bernilai negatif. Padahal, membiarkan air mata jatuh mengalir adalah sebuah bentuk keberanian radikal untuk mengakui batas kemampuan diri sendiri.

Suka atau tidak, sejarah mencatat bahwa pemikiran filosofis yang mendalam dan karya kemanusiaan yang agung sering kali lahir dari rahim penderitaan, bukan dari ruang ber-AC yang nyaman dan steril. Saat seseorang menangis, dia sebenarnya sedang melakukan katarsis—sebuah proses pembersihan sampah emosional yang tak sanggup lagi dipikul oleh akal sehatnya sendirian.

Ritual  Tanpa Kata

Bagi mereka yang beriman, air mata memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih sublim dan personal. Sering kali, institusi sosial dan doktrin formal mendikte kita bahwa berkomunikasi dengan Yang Ilahi harus selalu melewati untaian kalimat yang puitis, terstruktur, dan tertata rapi. Kita memperlakukan ibadah seperti birokrasi. Padahal, Tuhan sama sekali tidak membutuhkan  doa yang lolos penyuntingan tata bahasa manusia karena Tuhan mengerti semua bahasa manusia walau itu bahasa isyarat sekalipun.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA

 

Tangisan yang pecah di tengah kesunyian sepertiga malam, di balik pintu kamar yang terkunci, adalah bentuk aduan paling murni kepada Sang Pencipta tentang segala hal yang mustahil diceritakan kepada sesama manusia. Manusia sering kali mengecewakan ketika mendengar keluh kesah, namun ruang transendental selalu menyediakan penerimaan tanpa syarat.

Sebelum logika kita sempat merangkai diksi dan subjek-predikat-objek, getaran kesedihan dari hati yang tulus itu sudah menembus ke langit. Ini adalah bentuk kepasrahan yang terhormat, bukan kepasrahan yang kalah. Sebuah momen sakral di mana manusia dengan sukarela menanggalkan ego keakuannya, membuang kesombongan intelektualnya, dan bersimpuh dengan segala keterbatasan di hadapan Yang Maha Tak Terbatas. Air mata menjadi jembatan gaib yang menghubungkan kerapuhan makhluk dengan keagungan Khalik tanpa sekat kata.

Membangun Ruang Aman

Ironisnya, dunia di sekitar kita lebih sering bertindak sebagai penonton yang dingin, sinis, dan gemar menghakimi. Ruang publik hari ini mengalami surplus pengkritik, namun defisit akut orang yang mau menyediakan telinga untuk mendengarkan. Dengan sangat mudah memberikan label lemah atau cengeng pada air mata orang lain tanpa pernah mau tahu seberapa berdarah-darahnya perjuangan kaki yang gemetar itu untuk bisa tetap berdiri tegak setiap harinya. Kita terlalu sibuk menilai hasil akhir tanpa peduli pada proses bertahan hidup yang penuh lebam. Padahal, mereka yang sedang berada di titik lelah ekstrem tidak membutuhkan khotbah moral, nasehat klise, atau penghakiman teologis. Mereka hanya butuh satu hal sederhana: ruang aman yang inklusif untuk didengar tanpa dihakimi.

Baca juga:  SANG RATU ADIL: NOTONAGORO INDONESIA UNTUK DUNIA (EPS-5)

 

Tulisan singkat ini adalah sebuah ketukan kecil bagi kesadaran kolektif kita untuk kembali menjadi manusiawi di tengah mekanisasi zaman. Kita tidak harus selalu terlihat kuat hanya untuk dianggap berharga atau layak dicintai di dunia yang fana ini.

 

Jika hari ini hidup anda terasa begitu menghimpit, jika dunia menuntut terlalu banyak dari kapasitas yang anda miliki, dan jika mulut anda terkunci rapat karena lelah bercerita, izinkanlah air mata itu jatuh dengan sendirinya. Biarkan ia mengalir bebas membasuh penat yang menyumbat dada. Karena pada setiap tetesnya yang jatuh ke bumi, ada doa yang paling tulus—sebuah pesan tanpa suara yang melesat dari palung hati menuju keabadian. Menangislah tanpa rasa malu, karena dari sanalah kita belajar bahwa kita adalah manusia yang memiliki jiwa, bukan mesin robotik yang diprogram hidup tanpa rasa.

 

Wallohu Aqlam Bisshawab…

  • Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.

Berita Terbaru

Serangan Israel ke Wilayah Suriah, Raja Jordania dan Menlu Suriah Bertemu Bahas Berbagai Kerjasama!

SumutNews.co- Amman, Pertemuan 2 Kepala Negara Membahas persoalan Israel...

Pemerintah dan Korporasi Global Pontang-panting Hadapi Jutaan Serangan Siber pada Celah PHP: Situasi Kritis!

Sumutmews.co, Tokyo — Sejumlah korporasi multinasional dan lembaga pemerintah...

Pengelolaan Dana BOS SMKN 3 Padangsidimpuan Dipertanyakan: Biaya Praktik Minim, Siswa Malah Dibebani Biaya Tambahan

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di...

Pasca Kebakaran Mobil: SPBU Manunggang Kini Disorot, Aktivis Desak Usut Sumber Pasokan BBM Ilegal

SUMUTNEWS.CO, Padangsidimpuan — Insiden kebakaran mobil yang diduga mengangkut BBM...

Desain Kebun Kopi Agroforestri Yang Adaptif Iklim

Penulis: Rasyid Assaf Dongoran Praktisi Program Konservasi Alam & Lingkungan...

Berita Terkait