SUMUTNEWS.CO, Tabagsel – Ada warisan leluhur yang tidak hilang karena dihancurkan. Ia bisa hilang dengan cara yang jauh lebih sunyi: ketika tidak lagi dibaca, tidak lagi ditulis, dan tidak lagi dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Kondisi itulah yang dinilai mulai mengkhawatirkan terhadap keberadaan aksara Tulak-Tulak Batak di kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).
Di tengah derasnya perkembangan zaman, penggunaan aksara Latin dan teknologi digital semakin mendominasi kehidupan masyarakat. Sementara itu, aksara tradisional yang menjadi bagian dari perjalanan budaya Batak justru semakin jarang diperkenalkan, khususnya kepada anak-anak dan generasi muda.
Bagi sebagian generasi hari ini, aksara Tulak-Tulak bahkan mulai terasa asing. Tidak sedikit yang mengetahui bahwa masyarakat Batak memiliki aksara tradisional, tetapi tidak mengetahui bagaimana bentuk, cara membaca maupun cara menuliskannya.
Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan bahasa atau tulisan, tetapi menyangkut keberlangsungan identitas budaya.
Salah seorang yang menaruh perhatian terhadap persoalan tersebut adalah Hasmar Affandi, S.Ds., lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang yang memiliki latar belakang Desain Komunikasi Visual.
Ketertarikannya terhadap pelestarian aksara Tulak-Tulak bahkan pernah dituangkan dalam tugas akhir perkuliahannya. Ia mengangkat media pembelajaran aksara Tulak-Tulak untuk anak sekolah dasar dalam bentuk buku ilustrasi.
Menurut Hasmar, pendekatan terhadap anak-anak menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlangsungan aksara tradisional.
«“Kalau kita ingin aksara Tulak-Tulak tetap hidup, kita harus mulai mengenalkannya kepada anak-anak. Jangan menunggu mereka dewasa. Anak-anak justru harus dibuat tertarik terlebih dahulu, karena kalau sejak kecil sudah mengenal dan merasa dekat dengan aksara tersebut, kemungkinan mereka untuk melupakannya akan jauh lebih kecil,” ujar Hasmar, Kamis (3/9/2026).
Ia menilai, salah satu persoalan dalam pelestarian aksara tradisional adalah cara penyampaiannya yang terkadang masih terlalu formal dan kurang dekat dengan dunia anak.
Karena itu, menurutnya, pendekatan visual dan kreatif dapat menjadi salah satu solusi.
“Waktu saya mengangkatnya dalam tugas akhir, saya mencoba membuat media pembelajaran dalam bentuk buku ilustrasi. Tujuannya agar anak-anak tidak merasa sedang belajar sesuatu yang kuno atau sulit, tetapi justru merasa seperti sedang membaca buku cerita dan bermain sambil mengenal aksara,” jelasnya.
Hasmar menilai, pemerintah daerah memiliki peran besar dalam menjaga agar aksara Tulak-Tulak tidak hanya menjadi peninggalan sejarah yang tersimpan dalam dokumentasi.
Menurutnya, pelestarian harus dilakukan secara nyata dan berkelanjutan. Ia menyarankan pemerintah daerah dapat mulai memasukkan pengenalan aksara tradisional ke dalam kegiatan pendidikan, terutama melalui muatan lokal di sekolah dasar.
“Pemda jangan hanya membuat kegiatan budaya ketika ada momentum tertentu. Harus ada program yang berkelanjutan. Misalnya membuat bahan ajar aksara Tulak-Tulak untuk anak SD, mengadakan lomba menulis atau membaca aksara, membuat papan nama di ruang publik dengan aksara Batak, dan memberikan ruang kepada seniman serta desainer lokal untuk membuat media edukasi yang menarik,” katanya.
Selain itu, Hasmar juga mendorong pemerintah untuk menggandeng perguruan tinggi, budayawan, komunitas adat dan pelaku industri kreatif.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara-cara konvensional.
“Sekarang anak-anak hidup di dunia visual dan digital. Jadi cara memperkenalkan aksara juga harus mengikuti perkembangan zaman. Bisa dibuat dalam bentuk buku ilustrasi, animasi, permainan edukasi, konten media sosial atau aplikasi pembelajaran. Yang penting substansi budayanya tetap benar,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah tidak memandang aksara Tulak-Tulak sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masa lalu.
Justru menurutnya, aksara tersebut dapat menjadi bagian dari identitas daerah yang diperkenalkan dalam kehidupan modern.
“Kalau kita bangga dengan budaya sendiri, seharusnya aksara leluhur juga mendapat tempat. Jangan sampai kita sangat mengenal budaya luar melalui internet, tetapi ketika ditanya aksara leluhur sendiri kita tidak tahu,” kata Hasmar.
Jangan Sampai Tinggal Foto di Buku Sejarah
Kekhawatiran terhadap keberlangsungan aksara Tulak-Tulak menjadi semakin relevan ketika generasi yang mampu membaca dan menuliskannya semakin terbatas.
Sebab sebuah aksara tidak akan bertahan hanya karena pernah digunakan oleh leluhur.
Aksara akan tetap hidup apabila ada generasi yang mempelajarinya, menggunakannya dan mewariskannya kembali.
Karena itu, Hasmar berharap Pemda di wilayah Tabagsel dapat melihat persoalan ini sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan jangka panjang.
“Pemda harus berani membuat satu gerakan khusus untuk pelestarian aksara. Jangan menunggu sampai aksara itu benar-benar hilang dari masyarakat. Kalau sekarang kita masih bisa menemukan orang yang memahami dan menguasainya, inilah waktunya didokumentasikan, diajarkan dan diwariskan kepada anak-anak,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu membuat dokumentasi yang baik terhadap naskah-naskah dan pengetahuan mengenai aksara Tulak-Tulak agar tidak hilang bersama generasi yang menguasainya.
“Yang paling penting adalah ada kemauan untuk memulai. Tidak harus langsung besar. Mulai dari sekolah, mulai dari komunitas, mulai dari ruang publik. Kalau dilakukan bersama dan konsisten, saya yakin aksara Tulak-Tulak bisa kembali dikenal oleh generasi muda,” tuturnya.
Pada akhirnya, persoalan aksara Tulak-Tulak bukan hanya tentang apakah masyarakat hari ini masih mampu membacanya.
Lebih jauh dari itu, persoalannya adalah apakah generasi setelah kita masih memiliki kesempatan untuk mengenalnya.
Jangan sampai suatu hari nanti anak-anak Tabagsel mengenal aksara leluhurnya hanya dari foto di buku sejarah.
Jangan sampai aksara yang pernah menjadi bagian dari peradaban leluhur hanya menjadi simbol yang muncul ketika ada acara adat.
Dan jangan sampai kita baru menyadari nilainya ketika sudah tidak ada lagi orang yang mampu membacanya.
Sebab ketika sebuah generasi berhenti menulis dengan aksara leluhurnya, sesungguhnya bukan hanya sebuah tulisan yang sedang menghilang.
Satu bagian dari identitas sedang perlahan-lahan kehilangan suaranya. (SN13)





