Oleh : Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)
Pergulatan Budaya di Era Global
Kita sedang hidup di era di mana identitas manusia mudah tercerabut dari tanah tempat ari-arinya ditanam dan ketika semua hal diukur dengan angka, kecepatan, dan materi nyatanya semakin membuat ruang batin manusia modern sekalipun sering kali mengalami kekosongan yang akut. Masyarakat merindukan sebuah jangkar batin yang kokoh—sebuah kompas spiritual yang tidak hanya berbicara tentang masa lalu yang agung, melainkan mampu menjembatani sejarah masa lalu itu dengan masa depan yang serba tidak pasti, tanpa sedikit pun mengorbankan kemurnian jiwa asalnya.
Bagi masyarakat Mandailing, ruang rindu, tempat berteduh, dan ketenangan batin itu melekat erat pada sosok “ompung” yang bijaksana. pemikir, sekaligus budayawan H. Pandapotan Nasution, S.H. Melalui seluruh helai napas dedikasi seumur hidupnya, ia telah melangkah jauh melampaui batas-batas formalitas seorang mantan birokrat maupun pemangku adat biasa. Ia tidak memandang kebudayaan sebagai lembaran kertas usang yang harus dihafal, melainkan sebagai organisme hidup yang harus terus diberi ruang untuk bernapas. Ia hadir sebagai perawat atau penjaga (curator) memori kolektif yang paling setia, senantiasa berdiri di pintu waktu untuk mengingatkan kaumnya bahwa di dalam tanah yang mereka pijak dan di bawah langit yang mereka junjung, mengalir nilai-nilai luhur yang tidak boleh dibiarkan mengering oleh terik kemarau zaman. Adat di matanya bukanlah sebuah kurungan masa lalu yang membelenggu kemajuan, melainkan udara bersih yang harus senantiasa dihirup agar manusia tetap ingat bagaimana cara memanusiakan manusia lainnya dengan penuh rasa hormat, welas asih, dan martabat yang utuh.
Akar Intelektual Sang Tokoh
Lahir pada tahun 1938, beliau tumbuh dan dibesarkan dalam rahim tradisi yang kental, berakar pada struktur sosial yang menghargai setiap tutur kata, langkah kaki, dan perilaku. Namun, ia tidak pernah memilih untuk menutup mata atau mengurung diri dari dinamika dunia modern yang bergolak di luarnya. Langkah hidup membawanya mencecap pendidikan hukum formal hingga meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.), sebuah pencapaian intelektual yang alih-alih membuatnya berjarak dengan masyarakat akar rumput, justru menjadi pisau analisis yang memperkuat kecintaannya pada hukum tanah ulayat. Di dalam ruang jiwanya, ilmu hukum modern yang rasional, tertulis, dan terstruktur bersenyawa secara anggun, intim, dan dialektis dengan hukum adat Mandailing yang ia timba langsung dari kearifan lisan para tetua adat di kampung-kampung sunyi. Perpaduan organik ini melahirkan sebuah pandangan kebudayaan yang teramat sejuk dan mendalam.
Di sinilah letak keunikan pemikirannya. Beliau tidak melihat adat sekadar sebagai barisan aturan yang kaku. Baginya, seluruh tatanan adat Mandailing bermuara pada nilai kosmologi spiritual yang sangat dalam yaitu konsep Holong. Adat harus menjadi pelindung yang berwajah teduh dan penuh tenggang rasa. Melalui sifat inilah, tata hidup adat membimbing masyarakat untuk meraih tiga pilar kebahagiaan hidup sejati manusia Mandailing yakni Hagabeon (keberkahan hidup dan keturunan yang saleh), Hamoraon (kekayaan spiritual dan kemandirian hidup), serta Hasangapon (kemuliaan watak yang dihormati sesama).
Dengan gelar adat kehormatan Patuan Kumala Pandapotan, beliau menyadari dengan penuh kerendahan hati bahwa kemuliaan adat sama sekali tidak terletak pada mahkota yang berkilau atau singgasana yang ditinggikan. Kehormatan sejati baginya adalah tentang ketulusan pundak yang siap ditekuk untuk memikul beban moral, mempraktikkan sifat holong, menjaga harmoni peradaban, mendamaikan pertikaian, dan memastikan bahwa berkah kesejahteraan (hagabeon) adat dapat dirasakan hingga ke lapisan masyarakat yang paling lemah sekalipun. Baginya seorang pemimpin adat adalah pelayan bagi kedamaian batin kaumnya.
Benteng Tradisi dan Literasi
Beliau memahami dengan kesadaran yang teramat dalam bahwa musuh terbesar dari sebuah kebudayaan bukanlah serbuan dari luar, melainkan penyakit kelupaan yang perlahan menggerogoti dari dalam tubuhnya sendiri. Ketika tradisi lisan mulai kehilangan panggungnya, ketika suara-suara petuah tetua adat tertimbun oleh riuh rendah informasi digital, dan memudar di telinga generasi muda yang mulai merasa terasing di tanahnya sendiri, ia memilih menempuh jalan sunyi yang Panjang yakni jalan literasi. Melalui karya-karya monumentalnya yang kini menjadi rujukan utama bagi para pencari akar sejarah, seperti Adat Budaya Mandailing dalam Tantangan Zaman dan Mandailing dengan Adatnya, ia mengalirkan seluruh telaga pengetahuannya ke dalam bait-bait aksara yang abadi.
Di dalam lembaran-lembaran buku tersebut, ia membedah dengan jemari intelektual yang sangat halus konsepsi falsafah Dalihan Na Tolu—sebuah kosmologi hubungan kemanusiaan segitiga yang mengatur bagaimana sesama saudara semarga (Kahanggi), pihak pemberi gadis yang dihormati (Mora), dan pihak penerima gadis yang mengabdi dengan ketulusan (Anak Boru) saling menghormati, menopang, dan menjaga keseimbangan semesta sosial.
Menulis bagi beliau adalah cara terbaik untuk mendirikan benteng pertahanan jiwa. Ia sadar bahwa ingatan manusia bisa luruh bersama waktu, namun aksara memiliki caranya sendiri untuk menembus zaman. Dengan mengodifikasi tradisi lisan yang kerap terkikis zaman menjadi literatur primer, ia sedang menanam ingatan batin yang kuat. Langkah ini ia lakukan demi memastikan agar anak-anak Mandailing yang merantau sejauh apa pun ke belahan bumi lain tetap memiliki peta spiritual untuk pulang. Peta yang akan membimbing mereka mengenali kembali siapa diri mereka yang sesungguhnya, menghargai darah luhur yang mengalir di tubuh mereka, dan berdiri tegak di tengah pergaulan dunia dengan harga diri serta identitas yang utuh tanpa harus kehilangan arah.
Menyalakan Obor Sinondang
Kesadaran dan ketajaman beliau terhadap pentingnya merawat ingatan tidak berhenti pada penulisan buku-buku referensi yang tebal. Beliau sangat memahami bahwa kebudayaan harus menjadi percakapan yang hidup di warung-warung kopi, di teras-teras rumah warga, dan di ruang publik masyarakat modern. Maka, di samping kesibukannya yang padat sebagai pemangku adat, ia merambah jalan perjuangan baru melalui dunia pers alternatif. Pada tahun 2007, lembaran sejarah mencatat lahirnya sebuah monumen jurnalisme kultural yang ia bidani sendiri yaitu Tabloid Sinondang Mandailing. Ketika edisi perdananya terbit dan menyapa pembaca, sebuah pesan ideologis yang kuat sedang dikirimkan ke tengah-tengah masyarakat.
Kata Sinondang yang berarti “cahaya” atau “sinar” bukan sekadar nama tanpa makna. Melalui tabloid ini, beliau ingin menyalakan obor penerang di tengah kegelapan amnesia budaya. Ia mengubah halaman-halaman berita menjadi panggung edukasi massal tempat hukum adat dan budaya didekatkan ke ruang keluarga, silsilah sejarah diurai kembali, dan gagasan pembangunan daerah diperdebatkan secara sehat. Baginya, jurnalisme adalah perpanjangan tangan dari tanggung jawab moral seorang hatobangon. Melalui media cetak ini, ia merawat tradisi lisan Mandailing dengan tinta yang tidak mudah luntur, memastikan bahwa suara kearifan lokal memiliki ruang yang setara untuk bersaing dengan derasnya arus informasi global.
Panggung Horja Godang Boby Kahiyang
Bulan November pada tahun 2017 menjadi sebuah ajang pembuktian sejarah yang agung, ketika seluruh mata bangsa Indonesia tertuju pada perhelatan Horja Godang (pesta adat besar) pernikahan Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu, putri dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam momen yang penuh dengan sorotan mata dan kamera itu, beliau dipercaya memikul amanah tertinggi sebagai Raja Panusunan—pemimpin adat utama yang memegang kendali, mengarahkan, dan mengetuk palu keputusan dalam persidangan besar raja-raja adat. Tugas ini menguji kecakapannya bukan hanya sebagai pembicara adat, melainkan sebagai seorang diplomat kebudayaan. Di ruang persidangan adat yang sangat dinamis dan dipenuhi ego struktural, beliau harus menavigasi unsur penjuru tiang utama penopang beban adat—agar semua fungsi kekerabatan berjalan seiring tanpa ada yang merasa ditinggikan atau direndahkan.
Tantangan terbesarnya kala itu adalah bagaimana merajut jembatan dialog spiritual antara tradisi Mandailing yang patriarkal dan tegas dengan keluarga Presiden Joko Widodo yang berakar kuat pada kosmos adat Jawa Solo yang matrilinial, halus, dan penuh simbolisme samar. Di sinilah kebijaksanaannya bersinar. Di bawah sorot lampu media nasional dan internasional, ia memimpin dengan ketenangan batin seorang begawan spiritual yang telah selesai dengan ego dirinya sendiri. Di atas tikar adat yang suci, ia menuntun jalannya setiap etape prosesi—mulai dari penyambutan pengantin yang penuh kehangatan rasa (haroan boru), penabalan marga Siregar kepada sang menantu, hingga dentum magis ketukan Gordang Sambilan. Pertemuan dua arus budaya besar itu melebur anggun di bawah ketukan palu adatnya, mengirimkan pesan yang sangat teduh ke seluruh penjuru Nusantara bahwa adat adalah tata krama semesta yang inklusif, yang mampu merangkul perbedaan menjadi sebuah harmoni kemanusiaan yang terhormat, anggun, dan mulia.
Pengabdian Birokrasi dan Pemekaran Daerah
Jika kita mengagumi beliau hanya sebatas pada keindahan selembar kain parompa sadun, tabuhan Gordang Sambilan yang ritmis, dan retorika luhur di atas tikar siding paradaton, berarti kita telah mempersempit dan mengerdilkan keluasan samudera hidupnya. Bagi dirinya, adat dan budaya tidak boleh berhenti menjadi sekadar hiasan dinding yang berdebu atau sekadar teori sosiologi yang dingin karena sejatinya adat itu harus menjelma menjadi tindakan nyata yang menyentuh realitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat bawah. Jejak panjang pengabdiannya sebagai Wali Kota Sibolga periode 1974–1979 serta keterlibatannya yang teramat vital sebagai salah satu aktor intelektual sekaligus bidan sejarah di balik lahirnya Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pada akhir dekade 1990-an adalah manifestasi empiris dari konsep hatobangon yang hidup.
Ia adalah perwujudan nyata dari tetua adat yang mengayomi, yang menggunakan ketajaman akal budi, pengalaman matang di birokrasi, jaringan dan network, dan jabatannya bukan untuk memperkaya diri atau membangun dinasti kecil. Ia bergerak untuk memikirkan lambung-lambung masyarakat huta , jalan-jalan pedalaman yang rusak, serta masa depan tata kelola wilayah di pelosok kampung halaman yang belum tersentuh kemajuan. Dunia politik yang sering kali dinilai kotor dan labirin birokrasi yang rumit di tangannya mengalami proses sakralisasi. Sisi-sisi tersebut berubah wujud menjadi instrumen suci pengabdian masyarakat—sebuah jalan kultural yang panjang demi mengangkat martabat, kesejahteraan, dan derajat hidup manusia-manusia Mandailing agar mereka mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan tantangan transformasi zaman.
Pengabdiannya yang mendalam di ranah birokrasi ini pula yang mendorongnya untuk melahirkan warisan nyata di bidang pendidikan. Rekam jejak pengabdiannya saat dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi cermin betapa ia sangat memahami urat nadi pemerintahan regional. Dari kursi Sekda itulah ia menyadari bahwa kedaulatan sebuah masyarakat komunal tidak akan pernah tegak seutuhnya apabila anak-anak mudanya dibiarkan tertinggal dalam kegelapan ketidaktahuan.
Bergerak atas panggilan batin dan keterpanggilan sejarah, beliau bersama-sama dengan para tokoh Mandailing Natal lainnya merintis pembukaan Kelas Unggulan yang ditampung menumpang di rahim SMA Negeri Kotanopan. Upaya visioner ini dilakukan dengan keuletan yang luar biasa di tengah keterbatasan zaman. Waktu kemudian membuktikan bahwa benih unggul yang disemai di Kotanopan itu berakar kuat dan tumbuh subur menjadi cikal bakal berdirinya SMA Negeri Plus Mandailing Natal, yang kini telah bertransformasi megah menjadi SMA Negeri 2 Plus Mandailing Natal, sebuah mercusuar intelektual yang menyemai tunas-tunas pembawa kemajuan bagi buminya.
Tali Rasa dan Rumah Emosional Sang Patuan
Bagi seorang Pandapotan Nasution, Mandailing tidak akan pernah menjadi sekadar coretan garis batas geografis atau urusan administratif di atas peta bumi pemerintahan. Wilayah berbukit-bukit dan berlembah hijau itu adalah tano hasorangan—tanah air kelahiran dan batiniah yang seluruh denyut nadinya berdegup sinkron di dalam degup jantungnya sendiri. Sejauh apa pun kakinya melangkah meniti tangga karier di belantara ibu kota yang penuh lika-liku, kompas emosionalnya telah terkunci rapat, selalu menunjuk pulang ke pelukan hangat kampung halaman yang bersahaja. Kedekatan emosional yang murni, jujur, dan tanpa sekat ini terpancar sangat jernih setiap kali ia menginjakkan kaki kembali di bumi Mandailing.
Di tanah kelahirannya, ia menanggalkan seluruh atributnya dan memilih untuk duduk bersila tanpa jarak di atas tikar pandan bersama warga. Ia mendengarkan keluh kesah, rintihan kehidupan, dan tawa tulus mereka dengan tatapan mata seorang ompung dan seorang ayah yang sarat akan empati batiniah yang mendalam. Dalam guratan autobiografinya yang teramat jujur, personal, dan intim, Orang Mandailing Meniti Buih, ia menuliskan sebuah refleksi filosofis yang menggetarkan jiwa. Ia merenungkan bahwa menjalani hidup di perantauan laksana seorang pengelana yang meniti buih tipis di atas ganasnya ombak samudera zaman. Hanya ingatan spiritual yang kuat akan tanah leluhur sajalah yang mampu menjaga manusia agar jiwanya tidak terombang-ambing lalu karam kehilangan arah kompas kemanusiaannya yang paling hakiki.
Berpikir Global Bertindak Lokal
Dalam diskursus kepemimpinan modern, kita sering mendengar kredo “think globally, act locally”—sebuah konsep agung tentang manusia yang ruang pikirnya merangkul cakrawala dunia, namun langkah kakinya tetap setia mencium aroma bumi tempat ia dilahirkan. Konsep ini bukan sekadar teori manajemen yang tertulis di buku-buku teks bagi beliau. Konsep ini adalah potret hidup, selembar biografi nyata yang ia jalani dengan penuh keuletan. Ketokohan, keluasan ilmu hukumnya, serta ketangguhannya dalam menapaki terjalnya anak tangga kehidupan telah membawanya melanglang buana ke episentrum kekuasaan nasional. Beliau telah menguji kapasitas dirinya, berselancar di belantara birokrasi, hingga menduduki kursi legislatif pusat di ibu kota negara. Ia telah melihat bagaimana dunia bergerak, memahami bagaimana hukum modern diketuk, dan tahu bagaimana sebuah kebijakan besar dirumuskan di tingkat tertinggi.
Namun, di sinilah letak keindahan lokalistik beliau yang membuat batin kita bergetar takzim. Sehebat apa pun namanya bergaung di kancah nasional, setinggi apa pun jabatannya di Jakarta, ia tidak pernah sekali pun mengizinkan akar sejarah tercerabut dalam kehidupannya. Ketika banyak orang melupakan asal-usulnya saat berada di puncak, ia justru memilih pulang, membawa seluruh telaga keilmuan kosmopolitannya untuk merawat tanah ulayat tempat ari-arinya dahulu ditanam. Ia mewariskan sebuah keteladanan yang teramat mahal bagi zaman yang miskin figur panutan ini bahwa untuk menjadi modern, intelek, dan dihormati di tingkat nasional sama sekali tidak menuntut dirinya untuk mengkhianati rahim tradisi dan literasi yang telah melahirkannya.
Ia tetap membumi dan mengakar dengan tradisi dan literasi serta menjadi benteng moral terkokoh bagi urusan adat istiadat Mandailing. Ketokohan nasionalnya tidak membuatnya berjarak, justru memperkaya perspektifnya untuk menjaga agar adat budaya Mandailing tetap berwibawa di panggung modern tanpa kehilangan kesakralannya.
Pembelaannya terhadap Mandailing Natal bukan sekadar urusan romantisme masa tua. Di dalam dada sang Patuan, berdegup sebuah tanggung jawab moral, sebuah utang kesejarahannya kepada leluhur, dan sebuah misi edukasi yang amat sangat luar biasa bagi generasi masa depan. Bagi beliau, pemekaran Kabupaten Mandailing Natal yang ia pioniri bersama para tokoh lainnya bukanlah akhir dari sebuah perjuangan politik, melainkan gerbang awal untuk menyulut lentera kemajuan. Hingga masa-masa akhir hidupnya, ia tidak pernah berhenti menyumbangkan karya nyata bagi pembangunan tanah kelahirannya. Pikiran, gagasan, ide, serta saran-saran kritis yang mengalir dari lisannya selalu ditujukan untuk satu hal guna memastikan bahwa bumi Mandailing Natal ini tumbuh menjadi daerah yang maju dan bermartabat namun anak-cucunya tetap memegang teguh kompas moral adatnya.
Ruang Hangat Sang Guru Peradaban
Kecintaan mendalam sang tokoh pada generasi penerus bukanlah untaian narasi teoritis yang mengambang di atas awan, melainkan kehangatan nyata yang menyentuh kulit dan sanubari siapa saja yang mengetuk pintunya. Meskipun garis takdir tidak membuat saya mengenal sosoknya secara sangat dekat dan presisi, semesta pernah mengizinkan sebuah momen berharga itu terjadi. Kenangan itu tersimpan rapi dalam memori, saat takdir mempertemukan kami di Bagas Godang Pidoli Dolok.
Suatu ketika, di sebuah sore yang tenang saat langit Mandailing mulai meredupkan cahayanya, sebuah keberanian menuntun langkah kaki saya bersama seorang kawan. Mengetahui sang tetua adat sedang pulang kampung melepas rindu, kami melangkah menuju kediamannya di Pidoli Dolok. Tidak ada kesan menara gading yang angkuh karena pintu rumahnya terbuka lebar, menyambut kedatangan anak-anak muda yang asing ini dengan dekapan kehangatan seorang kakek yang merindukan cucunya. Sore itu bertransformasi menjadi ruang dialog yang sangat menyegarkan jiwa, meruntuhkan sekat usia yang membentang jauh di antara kami.
Di usianya yang telah menua dimakan waktu, gurat-gurat ketampanan masa mudanya masih tersisa dengan sangat jelas di wajahnya, bersanding anggun bersama guratan kebijaksanaan sejarah yang dilakoninya. Di dalam ruang tersebut, ia hadir tanpa sekat pembatas kemegahan duniawi. Sosoknya teramat sederhana, pancaran lakunya begitu bersahaja, namun di balik rambutnya yang memutih dan tubuhnya yang senja, tersimpan energi batin yang luar biasa meluap-luap. Ketika guratan bicaranya mulai menyentuh ranah adat dan budaya, kelelahan fisik usianya seolah menguap, digantikan oleh binar mata yang energik dan penuh daya hidup. Bicaranya begitu lembut dan mengalir tenang laksana aek Pohon namun seketika bisa berubah menjadi riak gelombang yang berapi-api, penuh gelora, dan penuh daya pikat spiritual saat jemari bicaranya mulai menyentuh untaian kisah tentang adat istiadat, marga, dan martabat Mandailing.
Sebelum langkah kami beranjak pulang meninggalkan pelataran rumahnya, sebuah kejutan manis menghentikan denyut waktu. Ompung menghadiahi sebuah buku buah karangannya sendiri. Sembari menatap lembut, ia menanyakan nama saya. Dengan jemari yang mulai bergetar, di halaman pertama buku tersebut ia menggoreskan sebait kalimat dedikasi yang teramat personal yakni sebuah pesan penguat jiwa . “untuk anggingku” diiringi untaian doa semoga buku itu menjadi inspirasi lalu ditutup dengan goresan tanda tangannnya.
Menerima hadiah itu laksana menerima tongkat yang teramat sakral. Sebuah penghargaan dan kehormatan yang luar biasa. Dalam puncak rasa takzim yang membuncah di dalam dada, batin ini tertunduk dalam. Saya meraih jemari tangannya yang berkeriput, menciumnya dengan segenap rasa hormat yang paripurna, seraya melafalkan sebuah untaian rasa terima kasih yang paling purba dari lubuk hati yang terdalam “Tarimokasi, Ompung.”
Mendengar kalimat itu, seulas senyum tipis yang teramat teduh terbit di wajah tuanya—sebuah senyuman pertanda rasa senang dan Bahagia. Malam merayap turun saat kami melangkah pamit meninggalkan Pidoli Dolok, namun di dalam dada kami, sekerat api kebudayaan telah menyala ditiup oleh napas hangat sang begawan budaya.
Pertemuan singkat di Bagas Godang itu menegaskan satu hal bahwa ia adalah manusia yang telah selesai dengan urusan dirinya sendiri, dan sisa hidupnya sepenuhnya adalah wakaf bagi kemuliaan tanah Mandailing. Ia menjelma menjadi Laboratorium Mandailing.
Refleksi Pengawal Gerbang Peradaban
Kini, ketika sang begawan budaya itu telah menyelesaikan tugas buminya dalam usia 88 tahun dan berpulang ke haribaan Sang Pencipta. Kita tidak hanya kehilangan seorang pribadi, melainkan sebuah perpustakaan peradaban yang berjalan. Kepergiannya memicu sebuah refleksi eksistensial yang teramat mendalam sekaligus mencemaskan. Semasa hidupnya, kecemasan terbesar yang kerap mengusik pikiran beliau tentang fenomena lahirnya generasi baru yang menderita amnesia kultural—generasi yang menjelma menjadi “Yatim Piatu Kebudayaan” di tanah kelahiran mereka sendiri. Mereka adalah anak-anak muda yang fasih meniru bahasa global namun gagap melafalkan petuah adatnya, mereka yang memiliki identitas formal di kartu tanda penduduk namun jiwanya kosong tanpa akar tunggang sejarah. Yatim piatu kebudayaan adalah tragedi sunyi di mana sekelompok manusia hidup terombang-ambing di dalam modernitas tanpa memiliki rumah spiritual tempat mereka pulang dan berteduh.
Oleh karena itu, seluruh perjalanan hidup, tarikan napas, dan kerangka pemikiran H. Pandapotan Nasution, S.H. harus kita pandang sebagai pelita yang memancarkan cahaya teduh di tengah kegelapan krisis identitas tersebut. Ia tidak meninggalkan kita dengan khotbah-khotbah moral yang kaku, melainkan sebuah teladan kemanusiaan (uswatun hasanah) yang teramat berharga untuk direnungkan bahwa menjadi manusia modern yang maju, rasional, dan berpendidikan tinggi sama sekali tidak berarti kita harus mencabut akar tradisi yang membentuk kedalaman jiwa. Menghargai masa lalu tidak akan pernah membuat langkah menjadi kuno atau tertinggal.
Adat dan budaya di tangan orang-orang yang memiliki keluhuran budi seperti beliau, tidak akan pernah berakhir menjadi artefak mati yang membeku. Adat adalah sesuatu yang hidup, yang senantiasa bernapas di dalam keseharian yang berjalan anggun berdialog bersama sang waktu, serta memberikan rasa aman, ketenangan spiritual, dan kompas moral di tengah amukan badai perubahan dunia.
Warisan terbesarnya adalah tugas sejarah untuk terus merawat akar tradisi itu agar anak-cucu kelak tidak tumbuh menjadi yatim piatu budaya di rumahnya sendiri dan agar pohon peradaban Mandailing tetap berdiri kokoh menantang langit, tanpa pernah perlu takut tumbang oleh hantaman angin dari arah mana pun.
Sebuah Doa untuk Sang Baginda Patuan
Ompung kini telah berada di keabadian yang sunyi setelah menyelesaikan pengabdian besarnya di dunia fana. Namun ingatan tentang senyum tipis, dan gelora bicaranya akan selalu mengalir di dalam ingatan anak-anak muda yang pernah ia sentuh hatinya. Sebagai penutup dari untaian rasa takzim, kagum, dan kerinduan mendalam ini, tidak ada kalimat yang lebih pantas, sejuk, dan mulia untuk dilepaskan dari lisan selain bait doa.
Allaahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihii wa’fu anhu wa akrim nuzu lahu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bilmaai wats-tsalji walbaradi wanaqqihi minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaajihi wa adkhilhuljannata wa ‘aidzhu min ‘adzaabilqabri wafitnatihi wamin ‘adzaabinnaariAllahummaghfirlahu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga Allah SWT melapangkan tempat kembalinya, melipatgandakan pahala dari setiap huruf tulisan dan karya nyatanya untuk bumi Mandailing Natal, serta menempatkan sang penjaga gerbang peradaban ini di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga, api inspirasi yang pernah ditiupkannya tidak akan pernah padam untuk selamanya. Amiin ya rabbal alamin….
Masur-sur tano parsidegen,
Masopak dangka parsitiopan,
Di hamamulak ni raja nami,
Di Pidoli Dolok nauli
DAFTAR PUSTAKA :
Detikcom. (2017, 24 November). Tentang magisnya Gordang Sambilan yang ditabuh di adat Kahiyang-Bobby. Detik News. detik.com
IniBaru.id. (2017, 27 November). Pandapotan Nasution, pemangku adat untuk pernikahan Kahiyang-Bobby. Tradisinesia. inibaru.id
Liputan6.com. (2017, 21 November). Ini gelar adat untuk Kahiyang Ayu – Bobby Nasution. Liputan6 News. liputan6.com
Nasution, H. P. (1995). Orang Mandailing meniti buih (Autobiografi). Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Budaya Mandailing (YPPBM).
Nasution, H. P. (2005). Adat budaya Mandailing dalam tantangan zaman. Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Budaya Mandailing (YPPBM).
Nasution, H. P. (2007). Mandailing dengan adatnya. PT. Intermasa.
Nasution, H. P. (2018). Risalah Horja Godang: Tata upacara, silsilah, dan kompilasi hukum adat perkawinan Muhammad Bobby Afif Nasution dengan Kahiyang Ayu. Yayasan Panyabungan.
Tempo.co. (2017, 24 November). Raja Panusunan setujui upacara nikah adat Kahiyang Ayu – Bobby. Tempo Seleb. tempo.co





