Sumutnews.co, Jakarta — Pernyataan politikus Muhaimin Iskandar yang menyebut Nahdlatul Ulama (NU) sempat terpuruk lantaran dipimpin oleh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menuai polemik. Wakil Ketua Baleg dan anggota Komisi II DPR RI sekaligus politikus Partai Golkar, Dr Ahmad Doli Kurnia Tanjung, melayangkan kritik keras atas pernyataan tersebut.
Polemik ini mencuat setelah potongan video pidato Muhaimin dalam sebuah forum beredar luas. Dalam forum tersebut, Muhaimin melontarkan sindiran: “yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira gitu.”
Menurut Dr Ahmad Doli Kurnia, ucapan tersebut bukan lagi sekadar gurauan situasional. Pasalnya, ini merupakan kali ketiga Muhaimin menyampaikan sindiran bernada memojokkan HMI di berbagai forum terbuka.
Dari “Iri Tanda Tak Mampu” Hingga Kritik Etika Aktivis
Merespons tudihan tersebut, Doli membagi tanggapannya menjadi dua aspek. Secara berseloroh, Doli menilai sindiran berulang itu justru memperlihatkan sikap defensif dari Muhaimin.
“Kalau dalam konteks bercanda, Muhaimin itu saya anggap iri tanda tak mampu,” ujar Doli.
Namun secara serius, Doli menekankan pentingnya etika sesama aktivis organisasi kepemudaan. Ia menyayangkan seorang tokoh publik yang diberi amanah besar justru melemparkan narasi yang berpotensi memecah belah hubungan antarorganisasi mahasiswa, seperti HMI dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
“Kita ini sebenarnya sesama aktivis harus saling menghargai. Sangat kecewa jika ada tokoh bangsa yang diberi kesempatan besar, tapi malah mengecilkan dirinya sekadar menjadi ‘bapak’ di kalangannya saja, bahkan berpotensi menjadi pemecah bangsa,” tegas Doli.
NU dan Ormas Islam Milik Seluruh Warga Negara
Doli menegaskan bahwa NU, Muhammadiyah, Al Washliyah, Persis, serta organisasi kemasyarakatan Islam lainnya adalah aset besar bangsa dan peradaban dunia, bukan milik eksklusif kelompok atau kader organisasi tertentu.
“Nahdlatul Ulama itu bukan hanya milik kelompok tertentu, bukan milik anak-anak PMII saja, dan bukan milik anak-anak HMI saja. NU milik seluruh umat Islam, milik bangsa Indonesia, dan milik warga dunia,” tutur Doli.
Ia mengimbau seluruh elemen pemuda dan aktivis dari lintas organisasi untuk menyikapi keberagaman wadah dengan dewasa serta menghentikan narasi yang merendahkan ormas keagamaan. Doli mengajak semua pihak berfokus memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan bangsa. ( SN08)





